HMK, Anambas – Upaya pengembangan komoditas kopi mulai dirintis di Kabupaten Kepulauan Anambas. Seorang petani di wilayah Genting, Desa Air Bini, Kecamatan Tarempa Selatan, Sunardi, mengembangkan kebun kopi seluas 2,5 hektare dengan sekitar 4.000 bibit yang ia tanam sejak Agustus 2024. Meski belum genap dua tahun, sebagian tanaman menunjukkan pertumbuhan baik dan mulai berbunga serta berbuah.
Langkah ini dinilai strategis mengingat hingga kini belum ada produksi kopi lokal di Anambas. Seluruh kebutuhan konsumsi masyarakat masih dipasok dari luar daerah.
Saat ditemui di kebunnya, Sunardi menunjukkan bunga-bunga kopi yang sudah mulai muncul dengan ukuran beragam. Ia menjelaskan kondisi tersebut menandakan masa panen nantinya tidak serentak.
“Biasanya yang bunganya lebih besar panen lebih dulu, lalu disusul yang lain. Jadi pemetikannya bisa bertahap,” ujarnya.
Dirintis dari Uji Coba hingga Belasan Ribu Tanaman
Ketertarikan Sunardi pada usaha kopi berawal pada 2013 setelah melihat peluang bisnis melalui media sosial dan cerita para pelaku usaha di Pulau Jawa. Namun kondisi ekonomi keluarga saat itu membuat rencananya tertunda.
Sebelum memulai usaha, ia mempelajari teknik budidaya kopi secara mandiri. Pada 2018, ia melakukan uji coba menanam 13 batang bibit kopi bersama dua rekannya. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan yang baik, sehingga menjadi dasar untuk memperluas skala tanam.
Kini, kebun kopi yang ia kelola telah mencapai sekitar 4.000 tanaman. Rekannya yang berkebun tidak jauh dari lokasinya bahkan sudah menanam sekitar 10.000 tanaman kopi. Secara keseluruhan, kawasan Genting dan sekitarnya kini memiliki belasan ribu batang kopi yang sedang dalam tahap pertumbuhan menuju fase produksi.
Sempat Diragukan hingga Disebut Aneh
Pada awal perintisan, langkah Sunardi tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Ia mengaku sempat diragukan karena menanam kopi di wilayah yang tidak memiliki sejarah produksi komoditas tersebut.
Bahkan, ada warga yang menilai langkah itu nekat dan menertawakannya karena mencoba mengembangkan komoditas baru yang belum pernah dibudidayakan secara serius di Anambas. Meski begitu, Sunardi tetap konsisten merawat kebunnya secara bertahap.
Kendala Lapangan: Pupuk dan Obat Semut Masih Mahal
Dalam pengembangan kebun, Sunardi menghadapi berbagai tantangan, terutama pada masa perawatan awal. Harga pupuk dan obat serangga cukup tinggi, sementara penggunaannya harus rutin agar tanaman tetap tumbuh optimal.
Ia menyebut serangan semut dan hama sebagai salah satu ancaman karena dapat merusak bunga dan buah yang baru muncul. Biaya perawatan—mulai dari pupuk hingga pestisida—harus terus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
“Kendala di awal itu biaya perawatan, terutama pupuk dan obat semut yang harganya lumayan tinggi,” katanya.
Dapat Dukungan dari Kelompok Tani
Untuk mengatasi keterbatasan, Sunardi bergabung dengan kelompok tani. Melalui kelompok ini, ia menerima dukungan serta bantuan dari dinas terkait. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu terutama pada fase awal pertumbuhan yang membutuhkan perawatan intensif.
Beralih dari Cengkih demi Pendapatan Lebih Stabil
Sebelumnya, Sunardi merupakan petani cengkih yang hanya panen satu kali dalam setahun. Menurutnya, pola tersebut kurang stabil dari sisi pendapatan.
Sebaliknya, kopi memiliki sistem panen bertahap karena buah tidak matang bersamaan sehingga dapat dipetik secara berkelanjutan saat musim panen.
“Kalau cengkih panennya setahun sekali. Kopi bisa dipetik bertahap, jadi hasilnya bisa lebih rutin,” jelasnya.
Analisis Pasar: Peluang Besar karena Tidak Ada Produksi Lokal
Belum adanya produksi kopi lokal membuka peluang ekonomi besar bagi petani Anambas. Selama ini, pasokan untuk masyarakat dan pelaku usaha masih bergantung pada kiriman dari luar daerah.
Dengan asumsi produktivitas awal 1–2 kilogram buah kopi per pohon, 4.000 tanaman berpotensi menghasilkan 4–8 ton buah kopi per tahun saat memasuki masa produksi. Setelah diolah menjadi green bean dengan rasio 20 persen, hasilnya berkisar 800 kilogram hingga 1,6 ton per tahun.
Dengan kisaran harga green bean sekitar Rp120.000 per kilogram di pasar Jakarta, nilai produksi mencapai Rp96 juta hingga Rp180 juta per tahun, tergantung produktivitas dan kualitas.
Berpotensi Jadi Embrio Kopi Lokal Anambas
Jika berhasil memasuki fase panen komersial dalam beberapa tahun ke depan, kebun kopi yang dirintis Sunardi dan petani lainnya di kawasan Genting berpotensi menjadi embrio produksi kopi lokal pertama di Kabupaten Kepulauan Anambas.
Selain mengurangi ketergantungan pasokan dari luar, pengembangan komoditas ini diharapkan membuka peluang ekonomi baru berbasis pertanian dan pengolahan hasil, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat. (***)

