Tanjungpinang – Belum lama ini Menteri Pertanian mengeluarkan statement bahwa untuk harga Indomie bakal terjadi kenaikan harga 3 kali lipat dari harga biasanya, Rabu ( 10/08 ).
Kenaikan tersebut terjadi akibat perang antara Rusia dan Ukraina sehingga bahan baku Mi instan ( gandum ) sangat tergantung pada impor. Karena diketahui saat ini Rusia dan Ukraina merupakan negara penghasil gandum terbesar dunia.
“Belum selesai dengan climate change, kita dihadapkan Perang Ukraina-Rusia, dimana ada 180 juta ton gandum nggak bisa keluar, jadi hati-hati yang makan mi banyak dari gandum, besok harganya (naik) 3 kali lipat,” kata Syahrul Yasin Limpo dalam sebuah webinar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
Sementara itu salah seorang warga Tanjungpinang bernama Desi mengatakan tidak masuk akal atas kenaikan ini karena menurutnya Indomie sudah menjadi makanan harian.
“Menurut saya, kenaikan indomie sampai 3 kali lipat itu gak masuk akal, soalnya indomie bukan bahan pokok seperti beras ataupun yang lainnya. Kasian la sama kami yang kurang mampu, kalau makanan harian seperti indomie itu aja bisa dinaikkan sampai 3 kali lipat, kami mau makan apa nanti? Gak ada alternatif lain kalau semua bahan makanan naik,” ujarnya dengan nada kesal.
Ia pun berharap kepada pemerintah agar bisa membantu masyarakatnya, ditambah lagi dengan minim lapangan kerja sehingga bagi masyarakat awam merasa tertekan.
“Untuk pemerintah harusnya membantu masyarakat, bukan malah menaikkan harga bahan makanan. Lapangan pekerjaan saja skrg makin sedikit,tidak terbuka untuk kami kalangan yang tidak memiliki ijazah tinggi. Kalau apa apa naik terus, kami masyarakat kecil lama lama merasa tercekik,” pungkasnya.










