Selain itu, para peserta juga akan diberikan kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan yang mereka pelajari melalui sesi praktik langsung pada benda-benda museum yang ada dalam koleksi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. 

“Ini akan memberi mereka pengalaman nyata dalam menangani dan merawat benda-benda bersejarah yang rentan terhadap kerusakan,” jelas Asa’at. 

Baca Juga: Walikota Tanjungpinang Beri Bantuan Para Lansia Melalui Zakat Profesi ASN

Sementara itu, Arsiparis Dinas Perpustakaan Provinsi Kepulauan Riau, Heri Wibowo selaku narasumber mengatakan para peserta diberikan pengetahuan pengayaan koleksi museum khususnya koleksi filologika yakni naskah atau arsip berbahan kertas. 

“Hari ini, mereka belajar perawatan dan perbaikan naskah-naskah kuno yang terbuat dari kertas, bagaimana pencegahan kerusakannya, merawatnya, memperbaikinya, hingga penyimpanannya agar terawat dengan baik,” terang Heri Wibobo. 

Untuk perawatan arsip yang masih bagus, kata Heri, adalah dengan metode enkapulasi yakni melapisi arsip dengan dua lembar plastik. Enkapulasi adalah pengganti dari laminating. Perawatan dengan cara enkapulasi ini, arsip bisa lebih terjamin keamanannya, sebab tidak menggunakan cara dipanaskan. 

Baca Juga: Sinergi Antara Bea Cukai Batam Dengan Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Penyeludupan Sabu Dapat Digagalkan

Begitu pula, untuk arsip yang rusak. Misalnya rapuh, sobek, lapuk, patah, dan sebagainya, dapat menggunakan metode laminasi dengan tisu jepang ditambah bahan-bahan lainnya seperti perekat berbahan carboxyl methyl cellulose, dan juga magnesium karbonat untuk menetralkan asam yang terkandung pada kertas tersebut.