“Saat Nabi Ibrahim As menitipkan anaknya, Nabi Ismail di tanah yang tandus, beliau menunjukkan bahwa keyakinan pada Allah swt mengalahkan kepercayaan pada panca indra dan akal pikirannya,” ujar Gus Muwafiq.
Sebab dalam kondisi itu, Nabi Ibrahim menitipkan anak dan istrinya di tanah Makkah yang tidak punya tumbuhan. Namun di balik itu, menurut Gus Muwafiq, Nabi Ibrahim memiliki keyakinan yang kuat pada Allah SWT bahwa tanpa tumbuhan pun, Allah memiliki kekuasaan untuk menjaga anak dan istrinya.
Dalam ukuran akal sehat, lanjut Gus Muwafiq, dalam keadaan tidak ada tumbuhan, seharusnya tidak ada buah yang bisa menghidupi anak-istrinya. Namun fakta tersebut dikalahkan oleh keyakinan Nabi Ibrahim atas kuasa Allah SWT.
Gus Muwafiq melanjutkan, cerita kenabian di Makkah dilanjutkan dengan sejarah nabi-nabi dari kalangan bani Israil sebelum akhirnya berpindah kembali ke Makkah dengan Nabi Muhammad.
“Ini adalah perjalanan panjang sejarah Kenabian di tanah ini,” ujarnya.
Nahdlatul Ulama merupakan kelanjutan dari sejarah tersebut. Tauhid dan ubudiyah yang dipraktikkan oleh NU merupakan ajaran dari Nabi Muhammad yang juga merupakan kelanjutan dari ajaran Nabi dan Rasul sebelumnya.
“Jadi ajaran di NU bukan ajaran yang dibuat-buat tanpa dasar. Kalau ada yang bilang begitu berarti tidak mengerti sejarah,” ujarnya.

