Di lereng Gunung Merapi yang sejuk, seorang ulama lokal membuktikan bahwa nilai keagamaan dapat diwujudkan secara nyata melalui tindakan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan warga sekitar.
Kiai Ahmad Habibullah mengawali langkah mulianya sepuluh tahun lalu ketika menyaksikan lahan pertanian warga desa hancur akibat erosi tanah serta ketergantungan pada pupuk kimia berlebihan.
Beliau memilih turun langsung ke ladang bersama para pemuda desa untuk mengajari mereka teknik pembuatan pupuk organik mandiri dari limbah ternak yang melimpah.
Pendekatan humanis yang memadukan ajaran kepedulian alam dengan aksi nyata ini perlahan mengubah sudut pandang masyarakat lokal yang dulunya meragukan efektivitas metode pertanian ramah lingkungan.
Hasil panen sayuran organik yang terus meningkat setiap musim akhirnya mampu meyakinkan para petani skeptis untuk meninggalkan bahan kimia berbahaya yang selama ini merusak kesuburan tanah mereka.
Menjembatani Iman dan Kelestarian Alam
Bagaimana sebuah komunitas kecil di kaki gunung mampu bertahan menghadapi krisis pangan jika para pemimpin spiritualnya tidak mengambil peran aktif dalam perubahan sosial?
Kiai Ahmad meyakini bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem merupakan bagian tak terpisahkan dari ibadah harian yang wajib dijalankan oleh setiap pemeluk agama yang taat.
Pondok pesantren yang beliau kelola kini bertransformasi menjadi pusat pelatihan pertanian berkelanjutan yang terbuka bebas bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang suku maupun keyakinan.

