Di balik hamparan perbukitan hijau Magelang yang selalu diselimuti kabut tipis setiap pagi, seorang pria berpeci putih tampak tekun mencangkul tanah basah bersama puluhan pemuda desa tanpa memedulikan terik matahari yang mulai menyengat.
Kiai Ahmad Ridwan, sosok pemimpin pesantren lokal berusia lima puluh delapan tahun tersebut, telah menghabiskan dua dekade terakhir untuk mengubah lahan kritis menjadi kawasan pertanian organik yang sangat produktif.
Langkah nyata sang kiai bermula ketika krisis air bersih menghantam wilayah pemukimannya pada tahun dua ribu sepuluh akibat penebangan liar yang merusak ekosistem hutan konservasi setempat secara masif.
Menghadapi kehancuran lingkungan yang mengancam mata pencaharian warga, beliau memilih keluar dari mimbar ceramah formal untuk memimpin langsung gerakan penghijauan kembali kawasan sumber air pegunungan.
Beliau meyakini penuh bahwa ajaran agama sejatinya tidak hanya mengatur hubungan spiritual dengan Sang Pencipta, tetapi juga membebankan tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam semesta beserta isinya.
Merajut Kerukunan Melalui Gerakan Lingkungan
Pendekatan edukasi yang diterapkan Kiai Ahmad tergolong sangat unik karena beliau menggabungkan kitab suci klasik dengan teknik konservasi tanah modern yang didapatkannya dari berbagai lokakarya pertanian berkelanjutan.
Setiap santri di pesantrennya kini wajib menanam minimal sepuluh pohon buah produktif sebelum mereka menyelesaikan masa pendidikan keagamaan serta mempraktikkan pembuatan pupuk kompos secara mandiri.

