Perempuan berusia tiga puluh dua tahun tersebut mengaku menemukan kedamaian batin saat berhasil mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang berpotensi mencemari sungai di lingkungannya.
Keputusan sederhana itu berawal dari diskusi mingguan di komunitas kerohanian tempat ia belajar tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai cermin keimanan yang sejati.
Gerakan serupa juga terlihat di beberapa rumah ibadah yang mulai memasang panel surya demi menghemat pemakaian energi listrik nasional yang masih mendominasi jaringan utama.
Mentransformasi Tempat Ibadah Menjadi Ruang Hijau
Pengelola tempat ibadah kini tidak hanya fokus memfasilitasi kegiatan peribadatan harian, melainkan juga aktif mengedukasi jemaah tentang tata kelola limbah rumah tangga yang ramah lingkungan.
Program sedekah sampah yang diinisiasi oleh kelompok pemuda masjid berhasil mengumpulkan ribuan ton barang bekas yang kemudian dijual untuk membiayai beasiswa anak-anak kurang mampu.
Inovasi sosial ini membuktikan bahwa semangat religiusitas yang dikelola secara tepat mampu menyelesaikan dua tantangan sekaligus, yaitu masalah pencemaran lingkungan dan ketimpangan ekonomi masyarakat.
Selain pengolahan sampah, pembuatan sumur resapan dan taman vertikal di sekitar area ibadah menjadi langkah konkret untuk memanen air hujan serta menurunkan suhu udara sekitar.
Suasana tempat ibadah yang asri dan rindang secara otomatis membuat para jemaah merasa lebih betah serta khusyuk saat menjalankan aktivitas spiritual di tengah kebisingan kota.

