Religi

Hari Valentine Boleh di Lakukan Secara Islami ? Berikut Penampakannya

22
×

Hari Valentine Boleh di Lakukan Secara Islami ? Berikut Penampakannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi simbol love sebagai tanda Valentine day

HARIANMEMOKEPRI COM — Valentine Day Hari Valentine ) atau hari kasih sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari dalam setiap tahunnya, setiap tanggal tersebut banyak orang-orang merayakan bahkan mengungkapkan perasaannya kepada orang yang di cintai.

Hari Valentine sering terjadi Pro dan Kontra banyak juga perbedaan pendapat dari para ulama apakah diperbolehkan atau tidak untuk perayaan Valentine day ini khususnya di Indonesia.

Hari Valentine selalu identik dengan simbol love ( cinta ) namun banyak juga bertukar hadiah yang telah berlangsung sejak zaman abad pertengahan ke 20.

Sebagaimana dikutip oleh HARIANMEMOKEPRI.com melalui laman NU – online mengenai Valentine Day yang Islami ? yang di tuliskan oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun salah seorang Santri dan juga Kader muda NU yang tinggal Purworejo Jawa Tengah

Baca Juga: Tiga Tahun Kepergian Lina Jubaedah, Masalah Soal Harta Masih Jadi Polemik Teddy Pardiyana

Di antara hal yang selalu diributkan umat Islam di Indonesia menjelang pertengahan bulan Februari adalah fenomena perayaan Hari Valentine. Pro kontra pun terjadi di tengah-tengah masyarakat: ada yang menolak (bahkan mengharamkan) dan ada yang memperbolehkan, yang tentu dalam batas-batas tertentu.

Wajar kalau Google Trends menempatkan penelusuran tentang valentine ini di peringkat dua dengan 20.000 lebih pencari. Tulisan ini mencoba menjawab kedua polarisasi itu dengan pijakan sejarah, budaya, dan sebuah tawaran solusi.

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day) atau disebut juga dengan Hari Kasih Sayang banyak dirayakan pada tanggal 14 Februari. Sebagaimana definisi dari Wikipedia, Hari Valentine adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Barat.

Baca Juga: Nafa Urbach Galau Belum Mendapatkan Pasangannya ?

Hari valentine ini sekarang diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran tanda atau simbol dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai dari abad ke-19, tradisi penulisan tanda pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun

Di Amerika Serikat, mulai pada paruh kedua abad ke-20, tulis Wikipedia, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah yang biasanya diberikan oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Di Indonesia sendiri, saya melihat Hari Valentine diekspresikan dengan berbagai cara. Ada yang cukup dengan saling memberi ucapan, tukar hadiah, kencan, bahkan yang paling ekstrem dijadikan ajang untuk mesum, dalihnya saling melepas kasih sayang. Namun, saya memprediksi bahwa masih banyak para pelajar dan remaja kita yang mengekspresikan dengan cara-cara biasa, yaitu saling memberi coklat atau hadiah, yang merupakan korban dari tren (saya sendiri dulu pernah jadi korban ketika SMP).

Baca Juga: BMKG Ingatkan Pemda Agar Waspada dan Siap Siaga Hadapi Karhutla

Jadi, jika ditilik lebih dalam, perayaan Hari Valentine di Indonesia yang sudah menjadi budaya, khususnya di kalangan remaja, tidak serta merta dimaknai secara teologis bahwa itu berasal dari tradisi non-Muslim. Juga tidak serta merta harus dihukumi secara fiqih bahwa itu tasyabbuh dengan budaya yang tak Islami. Lebih dari itu, Hari Valentine harus dilihat dari kacamata budaya dan substansi, baru kemudian bisa dihukumi.

Jika harus dihukumi, maka Hari Valentine hanyalah sebuah bungkus, seperti layaknya hukum infotainment. Tinggal apakah isinya? Jika dalam kasus infotainment di televisi-televisi Indonesia macam-macam, ada yang sekadar memberitakan keseharian para selebritis, itu boleh-boleh saja. Namun jika sudah masuk para fitnah dan mengumbar keburukan dan bahkan gosip, itu yang dilarang. Hari Valentine pun seperti itu, tinggal bagaimana merayakannya? Jika dirayakan dengan cara yang tidak dilarang agama, maka itu sah-sah saja. Seperti banyak umat Islam yang menggunakan kata “minggu” dan bulan-bulan non-hijriyyah untuk berbagai kegiatan, tergantung pada perilaku kita sendiri bagaimana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *