HARIANMEMOKEPRI.COM — Tahukah kalian, kalau setiap tanggal 14 Februari itu, merupakan kado istimewa dan sangat dinantikan bagi warga Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama.
Karena pada momentum tersebut, tepatnya di tahun 1871 telah lahir bayi yang memberikan warna baru bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari adalah seorang ulama besar bergelar pahlawan nasional dan merupakan pendiri sekaligus Rais Akbar (pimpinan tertinggi pertama) Nahdlatul Ulama.
Baca Juga: Waspada Berikut ini 9 Sungai dan Pesisir Mangrove di Kabupaten Lingga Sering Bermunculan Buaya
Beliau memiliki julukan Hadratussyaikh yang berarti Maha Guru dan telah hafal Kutubus Sittah (6 kitab hadits), serta memiliki gelar Syaikhul Masyayikh yang berarti gurunya para Guru.
KH Hasyim Asyari adalah putra dari pasangan K.H. Asy’ari dengan Nyai Halimah, dilahirkan di Desa Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur, dan memiliki anak bernama KH. A Wahid Hasyim yang merupakan salah satu pahlawan nasional perumus Piagam Jakarta, serta cucunya yakni KH. Abdurrahman Wahid, merupakan Presiden RI ke-4.
Mbah Hasyim, panggilan akrab KH Hasyim Asyari adalah keluarga kiai. Kakeknya, Kiai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang.
Baca Juga: Unit Reskrim Polsek Bintan Timur Ringkus Pelaku Jambret di Tanjungpinang
Sedangkan ayahnya sendiri, Kiai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang.
Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepadanya.
Kakek Gus Dur tersebut wafat di daerah yang sama pada 21 Juli 1947 yang bertepatan dengan 3 Ramadhan 1366 H dalam usia 76 tahun.
Baca Juga: Lanud Raja Haji Fisabilillah Adakan Pembinaan Sosialisasi serta Pengenalan Stunting
Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, makam KH Hasyim Asyari yang berada di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, diziarahi ribuan orang tiap harinya.
Hampir sebagian besar pesantren di Jawa dan Sumatera lahir dari rahim Pesantren Tebuireng.
Para kiainya juga pernah menjadi santri KH Hasyim Asyari
Selain itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan mengajak santri berjuang melawan penjajah.
Baca Juga: Wali Kota Dandang Panci dan Kuali
Menurutnya, berjuang melawan perebut kedaulatan hukumnya fardhu ‘ain, wajib bagi setiap kaum muslimin Indonesia.
Selain itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dengan mengajak para santri untuk berjuang melawan penjajah karena berjuang melawan mereka hukumnya fardhu ain, yakni wajib bagi setiap muslimin Indonesia.
Baca Juga: Air Kelapa Buat Donat Kentang Lebih Empuk Cek Cara Buatnya
Sebagaimana diriwayatkan dalam film nasional berjudul Sang Kiai, pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa jihad.
Isinya, hukum membela negara dan melawan penjajah adalah fardhu ain alias wajib bagi setiap mukallaf (orang dewasa) yang berada dalam radius 88 kilometer.
Jadi, pahala perang melawan penjajah setara jihad fisabilillah. Oleh karena itu, orang Islam yang gugur dalam peperangan itu dihukumi syahid.
Baca Juga: Sejarah Singkat Tentang Nama Suku di Sumatera Barat, Berikut Penjelasannya
Fatwa jihad ini kemudian dikenal dengan istilah Resolusi Jihad. Perjuangan Hadratussyaikh dalam membela Tanah Air menginspirasi lahirnya film Sang Kiai, sebuah film perjuangan yang diproduksi Rapi Films pada 2013.
Tidak berlebihan kiranya jika pemerintah Indonesia menetapkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari sebagai salah satu pahlawan nasional.***

