Selain itu, pihaknya juga berencana membuat sumur bor serta tandon air di sejumlah titik rawan kebakaran.
“Dengan kondisi kemarau saat ini, seperti di Sungai Kawal yang kering, kita perlu menyiapkan alternatif sumber air seperti sumur bor dan tandon di lokasi rawan karhutla,” tambahnya.
Saat ini, Damkar Tanjungpinang memiliki enam unit armada pemadam dengan rincian dua unit berkapasitas 6 ton, serta empat unit berkapasitas 3 hingga 4 ton, ditambah satu unit armada rescue. Namun, dari sisi personel masih tergolong kurang.
“Idealnya satu pos itu 18 orang, sementara total anggota kita saat ini hanya 60 orang. Masih kurang sekitar 12 sampai 15 personel,” jelasnya.
Juliadi juga mengungkapkan, sebagian besar kebakaran lahan disebabkan oleh aktivitas masyarakat, seperti membuka lahan dengan cara dibakar maupun membakar sampah tanpa pengawasan.
“Ditambah kondisi angin, api kecil bisa cepat membesar,” ujarnya.
Adapun wilayah yang kerap terjadi kebakaran lahan di antaranya Dompak, Senggarang, dan Tanjungpinang Timur, dengan frekuensi kejadian bisa mencapai dua kali dalam setahun.

