HARIANMEMOKEPRI.COM – Krisis air bersih akibat musim kemarau melanda Kabupaten Pemalang.
Sedikitnya 30 desa di tujuh kecamatan terdampak kekeringan, dengan total 93.357 jiwa mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Setiap hari, warga di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Pulosari dan Belik rela mengantre membawa jeriken dan ember untuk mendapatkan pasokan air bersih yang didistribusikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang.
Berdasarkan data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi, tujuh kecamatan yang terdampak meliputi Pulosari, Watukumpul, Randudongkal, Warungpring, Belik, Bantarbolang, dan Bodeh.
Kepala Pelaksana BPBD Pemalang, Agus Ikmalludin, menjelaskan bahwa tidak seluruh desa di tujuh kecamatan tersebut mengalami kekeringan.
“Tidak semua desa di tujuh kecamatan terdampak kekeringan. Ada 30 desa yang terdampak dengan total sekitar 93 ribu warga. BPBD berkolaborasi dengan PMI, Baznas, dan PDAM melakukan dropping air bersih ke sejumlah titik dengan kapasitas rata-rata 100.000 liter per hari, belum termasuk bantuan dari para relawan,” ujar Agus saat dikonfirmasi, Jumat (17/7/2026).
Menurut Agus, wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Kecamatan Belik dan Pulosari.
Di Kecamatan Belik, desa yang paling terdampak adalah Desa Belik dan Gombong. Sementara di Kecamatan Pulosari, kekeringan paling parah terjadi di Desa Clekatakan, Penakir, Gambaran, Nyalembeng, Batursari, Pulosari, Pagenteran, Cikendung, dan Siremeng.
BPBD juga memprediksi kondisi kekeringan masih akan berlangsung hingga Oktober 2026, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.
“Kami secara resmi memulai operasi darurat hidrometeorologi kekeringan sejak 1 Juli 2026. Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober dengan puncak kekeringan pada Agustus dan September,” jelasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Kabupaten Pemalang terus mengerahkan armada truk tangki yang bekerja sama dengan PMI dan Perumda Air Minum (PDAM).
Distribusi dilakukan hingga ke wilayah-wilayah terpencil agar kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi.
“Setiap hari kami mengerahkan armada truk tangki dan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar distribusi tepat sasaran. Kami ingin memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi di tengah puncak musim kemarau,” kata Agus.
Selain permukiman warga, distribusi air bersih juga menyasar fasilitas umum seperti sekolah dan pondok pesantren.
Bantuan tersebut disambut antusias masyarakat yang mengandalkan pasokan air dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
BPBD bersama PMI, Baznas, PDAM, serta para relawan berkomitmen terus mengintensifkan distribusi air bersih hingga musim kemarau berakhir sebagai bentuk sinergi dalam membantu masyarakat menghadapi dampak kekeringan.

