Pengalaman mendadak merasa kurang fit setelah meminum segelas es teh manis di tengah teriknya siang hari kerap memicu prasangka buruk terhadap suhu minuman tersebut.

Masyarakat urban di berbagai kota besar sering kali menyalahkan air dingin sebagai penyebab utama peradangan tenggorokan, padahal mikroorganisme jahat seperti virus dan bakterilah yang sebenarnya memegang peranan utama.

Suhu dingin yang masuk ke dalam saluran pencernaan manusia sebenarnya langsung disesuaikan oleh organ tubuh secara alami tanpa mengganggu sistem kekebalan secara signifikan.

Banyak orang tua membentak anak-anak mereka ketika mencoba menikmati es krim pada malam hari karena menganggap camilan tersebut bisa memicu batuk serta pilek yang membahayakan kesehatan.

Penelitian ilmiah medis modern memaparkan bahwa rasa nyeri saat menelan timbul akibat reaksi inflamasi jaringan mukosa yang terinfeksi patogen mikroba, bukan disebabkan oleh molekul air bersuhu rendah.

Kebiasaan masyarakat meminum segelas air hangat saat badan terasa kuran fit memang mampu memberikan sensasi nyaman sementara, namun tindakan itu tidak serta-merta membunuh kuman penyakit di dalam tubuh.

Fenomena menarik lainnya yang membendung akal sehat warga adalah ketakutan berlebihan terhadap ancaman penyakit paru-paru basah akibat kebiasaan mandi pada waktu malam setelah selesai beraktivitas seharian.

Sebagian besar pekerja kantoran terpaksa menahan rasa tidak nyaman akibat keringat yang menempel di kulit lantaran memercayai anggapan miring mengenai dampak buruk guyuran air dingin di malam hari.