HARIAN MEMO KEPRI, TANJUNGPINANG – Terkait statement Staff Fungsional Umum Bidang Perdagangan Kota Tanjungpinang, Gilang Ichsan Pratama yang mengaku pihaknya telah melakukan sosialisasi terkait bidang perdagangan mendapat berbagai macam tanggapan dari pelaku usaha. Pasalnya dalam statement tersebut Gilang menyuruh untuk mengumpulkan para pelaku usaha yang merasa tidak pernah disosialisasi olehnya. Bahkan tidak hanya sampai disitu saja, Gilang mengatakan akan menunjuk hidung mereka ( pelaku usaha ) yang tidak merasa pernah disosialisi oleh Disperdagin Kota Tanjungpinang. Salah satu security di sebuah supermarket yang berada di Km 10 Tanjungpinang membenarkan statement tersebut. Bahwa memang benar pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjungpinang ada datang ke Supermarket tempatnya bekerja. Pria yang akrab disapa Herman ini mengatakan bahwa Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjungpinang sering datang sosialisasi ke Supermarket yang bernama Sumber Rezeki itu. ” Dulu waktu masih Supermarket Sumber Rezeki mereka ( Disperdagin Tanjungpinang ) memang sering datang kesini, ” katanya. Namun, lanjut Herman, sejak berubah menjadi Serbu ( serba sepuluh ribu ) dirinya mengaku tidak pernah tau. . ” Sepengetahuan saya semenjak adanya Serbu tidak pernah datang lagi, namun tidak tau kalau pas datang saya tidak ada ditempat karena ganti siff,” akunya. Bapak yang murah senyum ini mengatakan bahwa sekarang Supermarket barang umum Sumber Rezeki sudah ditutup digantikan oleh Serba Sepuluh Ribu. Pemiliknya dulu adalah bapak Wiranto dan saat ini telah join dengan pengusaha dari Malaysia. ” Di Batam, Karimun dan Tanjungpinang itu satu manajemen, di Karimun ada serba sembilan ribu, di Batam ada serba delapan ribu dan Tanjungpinang serba sepuluh ribu,” jelasnya. Berbagai macam produk luar negeri dijual di supermarket in, foto harianmemokepri.com Pantauan Harian Memo Kepri, produk yang dijual di Supermarket Serba Sepuluh Ribu yang berada di Km 10 Tanjungpinang ini banyak yang dari luar negeri. Bahkan dari sekian produk yang dijual ada yang tidak mencantumkan label SNI atau label bahasa Indonesia. Nampak salah satu produk luar negeri yang dijual tanpa mencantumkan importir dan label bahasa Indonesia foto harianmemokepri.com Terdapat juga produk dari negara Malaysia dan Cina yang tidak mencantumkan importir atau murni produk luar negeri yang dipasarkan langsung. ( red )

