Rencana penataan terdiri dari Plasa Penyambut, Tribun Pengunjung, Pohon Peneduh, Toilet Pengunjung, Toko Souvenir, dan Parkir Bentrik (Becak Motor Listrik).
Menurutnya, saat ini di belakang panggung eksisting, ada lahan yang cukup luas dan akan dihibahkan oleh pemiliknya.
“Maka kita cek bersama-sama, panggung kita mundurkan ke belakang, dan belakangnya yang kosong itu sebagian bisa kita manfaatkan untuk parkir dan charging Bentrik” tambahnya.
Penataan Balai Adat yang menurut Ansar Ahmad menjadi Final Destination para pengunjung di Pulau Penyengat, harus ditata dan dipercantik.
Rencana penataan terdiri dari sungken tribun pengunjung, stage dengan latar belakang Balai Adat, penataan perigi, pohon peneduh, dan bangunan souvenir.
Untuk semua itu, Gubernur Kepri berpesan agar semua yang harus dipenuhi agar diselesaikan bersama dari saat ini dengan kerja sama dan koordinasi yang baik antara OPD teknis Pemprov dengan BPPW Kepri.
“Kalau ada dokumen-dokumen yang kurang, mohon diinfo saja, sayang kalau program-program kita gagal karena persoalan administrasi” ujarnya.
Sementara itu Kepala BPPW Kepri Fasri Bachmid menyampaikan secara pribadi optimis program tersebut dapat diakomodir dengan porsi dari APBN walau saat ini belum bisa menyampaikan nominal APBN 2025.
“Sekarang sejauh mana kesiapan grand design kita. saya setuju dengan yang bapak Gubernur sampaikan tadi bahwa kalau alokasinya terbatas maka saya setuju kita selesaikan terhadap akses Pulau itu sendiri jadi nanti saya yang sampaikan langsung hal itu ke pimpinan. Saya akan meminta bahwa akses jalan kita ini diprioritas di luar Balai Adatnya” ungkap Fasri.

