Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menambahkan bahwa pertumbuhan investasi ini tidak hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas.
“Ini bukan sekadar lonjakan angka, melainkan menunjukkan struktur investasi yang sehat. PMA tetap kuat dan PMDN tumbuh agresif, menandakan Batam semakin dipersepsikan sebagai kawasan yang feasible, bankable, dan executable,” ujar Fary.
Berdasarkan negara asal investasi, Singapura menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp4,82 triliun, disusul Hong Kong, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang. Hal ini menunjukkan posisi strategis Batam dalam jaringan investasi regional maupun global.
BP Batam menyatakan akan terus menjaga momentum pertumbuhan tersebut melalui penguatan layanan investasi, percepatan penyediaan lahan dan utilitas, serta peningkatan kepastian berusaha.
Ke depan, Batam tidak hanya menargetkan peningkatan nilai investasi, tetapi juga pembangunan ekosistem industri yang berdaya saing dan berkelanjutan.

