Li Claudia menjelaskan, sebagai daerah strategis sekaligus pintu gerbang internasional, Batam menghadapi berbagai tantangan terkait pekerja migran, termasuk risiko TPPO dan kekerasan terhadap perempuan serta anak.
Karena itu, menurutnya, diperlukan keterlibatan aktif seluruh pihak, baik pemerintah, aparat penegak hukum, maupun lembaga sosial dan kemanusiaan untuk menangani persoalan tersebut secara komprehensif.
“Melalui lokakarya ini, saya berharap sinergi dan koordinasi antarlembaga semakin kuat sehingga upaya memutus mata rantai TPPO dan menekan angka kekerasan di Kota Batam dapat dilakukan bersama-sama,” katanya.
Ia berharap keberadaan balai latihan kerja dan pusat informasi tersebut dapat menjadi wadah untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul sekaligus memberikan perlindungan bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Selamat atas peresmian ini. Semoga tempat ini menjadi pusat pengabdian yang penuh berkat, melahirkan SDM yang kompeten, serta menjadi cahaya harapan bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan,” tutupnya.(adv)

