Amsakar juga menyoroti lima persoalan utama yang masih dihadapi pelaku UMKM, yakni sulitnya akses permodalan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, kemasan produk yang belum menarik, terbatasnya akses pemasaran, dan minimnya pendampingan dari pemerintah.

“Melalui MoU ini, setidaknya salah satu masalah besar yaitu permodalan bisa mulai kita jawab,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Cabang BTN Batam, Wahyudi Gusti Antony, menyatakan kesiapan BTN untuk menyalurkan pinjaman tersebut.

Ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Pemko Batam yang menunjuk BTN sebagai mitra penyalur pembiayaan.

“Kami merasa bangga dipercaya menjalankan program ini. UMKM Batam sudah terbukti tangguh, bahkan saat pandemi pun mampu bertahan,” ungkap Wahyudi.

Ia memastikan bahwa proses pengajuan pinjaman ini sepenuhnya gratis, tanpa pungutan biaya apapun sesuai arahan dari Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam.

Program pinjaman ini menargetkan 2.000 pelaku usaha mikro yang memiliki KTP Batam, Nomor Induk Berusaha (NIB), menjalankan usahanya di Batam, tidak memiliki catatan wanprestasi dari program subsidi sebelumnya, serta lolos penilaian administrasi dan kelayakan usaha dari pihak bank.

Amsakar berharap program ini dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan UMKM di Batam. Bahkan, jika program berjalan lancar, plafon pinjaman akan dinaikkan hingga Rp40 juta sampai Rp50 juta di tahun-tahun mendatang.

“Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi pemerintah selain melihat masyarakatnya tumbuh dan sejahtera. Mari manfaatkan fasilitas ini sebaik mungkin,” pungkasnya.