Tidak hanya merusak infrastruktur jalan, abrasi juga mengancam rumah-rumah warga Pasir Panjang.
Rumah milik Subanrio (63) menjadi salah satu yang terdampak paling parah. Pondasi rumahnya kini menggantung karena pasir penopang sudah habis dihantam gelombang.
Dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil, Subanrio mengaku hanya bisa pasrah menghadapi ancaman tersebut.
“Kalau gelombang besar datang, kami tidak bisa tidur sampai jam tiga atau empat pagi. Takut rumah runtuh,” ungkapnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya langkah penanganan dari pemerintah desa, kecamatan, maupun OPD terkait.
Tidak ada kegiatan penanganan darurat ataupun rapat terbuka bersama warga untuk membahas situasi genting ini.
Warga pun mulai mempertanyakan respons pemerintah, mengingat abrasi terus menggerus jalan dari hari ke hari.
Setidaknya, menurut masyarakat, ada beberapa langkah yang dapat segera dilakukan pemerintah:
Mengadakan rapat terbuka bersama warga untuk membahas kondisi darurat
Mengajukan laporan resmi dan permohonan penanganan ke pemerintah kabupaten dan provinsi

