Aroma asam yang menusuk dari tempoyak durian menyapa indra penciuman begitu pintu kayu restoran bernuansa hangat di kawasan Jakarta Selatan itu terbuka lebar.
Penikmat hidangan tradisional kini dapat menemukan jejak olahan fermentasi warisan leluhur yang dikemas kembali dengan gaya penyajian serba elegan serta memikat mata.
Pengawetan bahan makanan secara alami menggunakan mikroorganisme baik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang bertahan hidup masyarakat Nusantara.
Nenek moyang kita dahulu memanfaatkan ragi alami serta garam dapur untuk memperpanjang usia simpan bahan makanan musiman yang melimpah di sekitar pemukiman mereka.
Perkembangan tren gastronomi saat ini justru membawa teknik kuno tersebut kembali ke pusat perhatian para koki muda berkat profil rasanya yang kompleks.
Inovasi Rasa dari Dapur Tradisi
Dadiah asal Minangkabau yang dibuat dari susu kerbau terfermentasi di dalam tabung bambu kini kerap bersanding dengan buah segar sebagai hidangan penutup mewah.
Teksturnya yang lembut mirip puding dengan cita rasa gurih sedikit asam menyajikan kelezatan unik yang memanjakan lidah para petualang rasa lokal maupun mancanegara.

