Orang tua sering kali merasa bingung ketika menyaksikan anak-anak mereka lebih memilih menghabiskan waktu di depan layar gawai daripada membuka buku cerita.

Padahal, kebiasaan membaca yang tumbuh secara sukarela dari dalam diri anak memegang peranan kunci dalam membentuk pola pikir kritis serta kemampuan berempati.

Banyak keluarga terjebak pada metode lama yang memaksakan jam membaca kaku sehingga aktivitas literasi ini justru terasa bagai beban sekolah yang menakutkan.

Sejumlah praktisi pendidikan kini mulai mengampanyekan pendekatan yang jauh lebih fleksibel dengan meletakkan kenyamanan emosional anak sebagai prioritas utama dalam proses belajar.

Ketika buku hadir sebagai media bermain yang interaktif, minat anak untuk mengeksplorasi kata-kata akan berkembang tanpa perlu imbauan atau ancaman dari orang tua.

Memulai dari Sudut Baca yang Nyaman

Langkah awal yang sangat mudah untuk diterapkan di rumah adalah menyediakan sebuah sudut khusus yang diisi dengan bantal empuk serta pencahayaan memadai.