Pada saat itu masyarakat Tionghoa diberikan lahan oleh Daeng Celak untuk berkebun Gambir karena mereka dianggap lebih berpengalaman.
Baca Juga: Pisah Sambut Dandim 0315 Tanjungpinang Berlangsung Suka Cita Serta Penuh Canda Tawa
Karena hal tersebut semakin banyak masyarakat Tionghoa yang berdatangan ke Tanjungpinang untuk bekerja dan mengolah Gambir sehingga masyarakat Tionghoa semakin banyak dan berkembang pesat di wilayah Senggarang.
Menurut ceritanya, di Senggarang dulunya pernah mengalami musibah kebakaran yang hebat sehingga menghanguskan sebagian besar pemukiman penduduk.
“Setelah peristiwa itu masyarakat memilih untuk pindah dan tinggal di Tanjungpinang. Oleh karena itu peristiwa tersebut dipercaya menjadi salah satu alasan mengapa Senggarang menjadi kawasan yang kecil sedangkan Tanjungpinang saat ini lebih besar,” ungkap Erni.
Erni menambahkan mengapa kini banyak masyarakat Tionghoa bermukim di Senggarang karena dahulunya masyarakat Tionghoa bisa mengolah rempah-rempah khususnya Gambir dan berdagang melalui jalur laut.
“Inilah alasan masyarakat Tionghoa banyak tinggal kebanyakan di atas laut serta saat ini masih ada peninggalan sejarah yang ada di Senggarang,” terangnya.
Sisi lain pengurus Klenteng Vihara Dharma Sasana Hasan menyampaikan sejarah berdirinya Klenteng Vihara Dharma Sasana hingga sekarang sudah 308 tahun

