“Saya sedang berkolaborasi juga mendesain bagaimana hutan lindung menjadi salah satu wisata yang bisa kita manfaatkan,” katanya.
Lis menilai konsep serupa telah berhasil diterapkan di sejumlah negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, yang mampu mengoptimalkan kawasan hutan sebagai lokasi wisata olahraga dan rekreasi.
Menurutnya, Tanjungpinang memiliki modal yang cukup besar dengan luas kawasan hutan lindung mencapai lebih dari 70 hektare.
Potensi tersebut dinilai layak dikembangkan menjadi jalur lari dan lintasan sepeda yang nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
“Kita punya lebih dari 70 hektare kawasan hutan lindung, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan,” ujarnya.
Melalui kolaborasi dengan Pemprov Kepri, Lis berharap kawasan hutan lindung nantinya dapat menjadi ruang publik sehat sekaligus memperkuat citra Tanjungpinang sebagai kota yang ramah bagi aktivitas olahraga dan wisata berbasis alam.
“Insya Allah nanti kita akan berkolaborasi dengan Pemprov agar hutan lindung ini menjadi spot bagi runner dan bikers,” tutupnya.

