Di tengah panasnya hawa perbukitan Menoreh yang meranggas saban musim kemarau tiba, seorang lelaki bertubuh kurus dengan sarung tenun sederhana tampak telaten menyiram bibit beringin di pinggir sumber air warga.
Lelaki itu adalah Kiai Ahmad Sujadi, pengasuh sebuah pesantren kecil di Kulon Progo yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan lingkungan hidup sekaligus membangun jembatan persaudaraan antarumat beragama di kawasannya.
Ketika sebagian besar penceramah memfokuskan dakwah pada mimbar-mimbar formal di ruang tertutup, sosok sepuh ini justru memilih jalan sunyi dengan mencangkul tanah serta menanam puluhan ribu pohon bersama para santri dan tetangga sekitar.
Langkah berani tersebut dia mulai sekitar lima belas tahun yang lalu saat melihat krisis air bersih saban tahun selalu memicu perselisihan sengit antarwarga desa yang berbeda keyakinan.
Kondisi tanah kelerengan yang gundul akibat pembalakan liar masa lalu membuat mata air mengering, sehingga masyarakat harus berebut tetes air terakhir demi menyambung hidup keluarga mereka masing-masing.
Melihat potensi konflik sosial yang terus membara akibat kelangkaan sumber daya alam tersebut, Kiai Ahmad menyadari bahwa ceramah keagamaan saja tidak cukup untuk menyelesaikan akar permasalahan riil masyarakat bawah.
Beliau kemudian mengajak para santri turun langsung ke lereng gunung untuk membuat terasering sederhana serta menanam tanaman berakar dalam yang mampu mengikat air hujan secara efektif selama masa penghujan.
Aksi nyata yang dilakukan secara konsisten tanpa mengenal lelah ini lambat laun mengetuk hati para tokoh agama lain di kawasan perbukitan tersebut untuk ikut bergabung membersihkan aliran sungai.
Pendeta Fransiskus dari gereja lokal menjadi sosok pertama yang menggandeng jemaatnya untuk bahu-membahu bersama santri pesantren dalam kegiatan penghijauan kawasan hutan lindung desa.
Pemandangan langka berupa pemuda bersarung dan pemuda gereja yang saling melempar senyum sambil menanam pohon pinus di atas bukit kini menjadi pemandangan harian yang menghangatkan hati siapa saja.
Pendekatan dialog berbasis aksi ekologi nyata ini terbukti jauh lebih efektif meredam gesekan sosial dibandingkan sekadar menggelar seminar toleransi yang sering kali hanya berhenti di atas kertas semata.
Keberhasilan merawat puluhan titik mata air baru di kawasan lereng Menoreh membuat pasokan air bersih bagi lima desa di sekitarnya kini berlimpah sepanjang tahun tanpa ada diskriminasi pemanfaatan.
Air yang mengalir dingin dari saluran pipa bambu tersebut kini melayani rumah-rumah warga tanpa pernah menanyakan apa agama atau latar belakang suku dari keluarga yang mengonsumsinya setiap hari.
Di dalam area pesantren itu sendiri, santri tidak hanya diajarkan menghafal kitab suci dan hukum agama, melainkan juga dibekali pengetahuan sains praktis mengenai pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi.
Setiap pagi sebelum kelas pembelajaran agama dimulai, para santri diwajibkan mengolah sisa makanan serta dedaunan kering di laboratorium daur ulang sederhana yang dibangun di belakang kompleks pondok.
Hasil olahan pupuk organik tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada para petani lokal untuk membantu mengembalikan kesuburan tanah pertanian warga yang sempat rusak akibat penggunaan pestisida kimia secara berlebihan.
Seorang petani sayur setempat mengaku sangat terbantu dengan keberadaan pupuk gratis ini karena mampu memangkas biaya produksi pertaniannya hingga separuh dari pengeluaran biasa pada musim tanam sebelumnya.
Gaya hidup minim sampah yang diterapkan secara disiplin di dalam lingkungan pesantren ini akhirnya dilirik oleh pemerintah daerah sebagai model percontohan pengelolaan lingkungan hidup berbasis komunitas keagamaan.
Banyak kunjungan akademisi dari berbagai universitas ternama yang datang langsung untuk mempelajari metode pendekatan budaya dan keagamaan yang diterapkan oleh Kiai Ahmad dalam menggerakkan aksi konservasi alam.
Meskipun namany kini makin populer di kalangan aktivis lingkungan nasional, Kiai Ahmad tetap memilih tampil bersahaja dan menolak berbagai tawaran penghargaan mewah dari lembaga donor internasional maupun instansi pemerintah.
Bagi sang kiai, imbalan terbesar dari seluruh kerja kerasnya selama belasan tahun ini adalah melihat senyum damai anak-anak desa yang bisa bermain air jernih tanpa perlu mengkhawatirkan konflik antarwarga.
Beliau selalu mengingatkan para tamu yang berkunjung bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari iman dan pengabdian manusia kepada Sang Pencipta alam semesta.
Prinsip dasar bahwa bumi merupakan rumah bersama yang harus dijaga tanpa memandang sekat perbedaan keyakinan terus ditanamkan secara mendalam kepada setiap generasi muda yang belajar di tempat tersebut.
Kini pada penghujung bulan Oktober dua ribu dua puluh enam ini, pesantren ekologis tersebut telah melahirkan ratusan alumni yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan membawa misi kelestarian lingkungan yang serupa.
Para alumni tersebut mendirikan gerakan-gerakan konservasi skala lokal di daerah asal masing-masing, mulai dari pembersihan pantai di pesisir Sumatra hingga penanaman mangrove di pulau-pulau kecil wilayah Indonesia timur.
Jejak langkah kebaikan yang diawali dari kerendahan hati seorang tokoh agama di pelosok desa kecil ini membuktikan bahwa agama sejatinya adalah sumber energi penggerak pemulihan kehidupan manusia dan lingkungannya.
Saat mentari sore mulai tenggelam di balik deretan bukit Menoreh, gema azan magrib terdengar bersahutan dengan bunyi lonceng gereja di seberang lembah, menyanyikan simfoni perdamaian yang sangat indah dan menyejukkan jiwa.
Merajut Kemanusiaan Lewat Keteladanan
Keteladanan nyata yang ditunjukkan oleh Kiai Ahmad memberi pelajaran berharga bagi masyarakat luas tentang arti penting mengubah wacana keagamaan menjadi tindakan konkrit yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.
Ketika ruang publik sering kali bising oleh narasi perpecahan dan kebencian, kehadiran figur-figur sejuk seperti beliau menjadi penyegar yang mengembalikan kepercayaan kita pada kekuatan kebaikan hati manusia.
Merawat kerukunan antarumat beragama ternyata tidak selalu membutuhkan panggung besar atau pidato retoris yang memukau, melainkan ketulusan untuk saling merengkuh dalam kerja bakti menjaga lingkungan hidup tempat kita bernaung bersama.
Perjalanan panjang pesantren ekologis ini memanggil setiap pembaca untuk mulai menengok lingkungan di sekitar rumah masing-masing dan mengambil tindakan kecil yang membawa dampak positif bagi sesama manusia.

