Pendeta Fransiskus dari gereja lokal menjadi sosok pertama yang menggandeng jemaatnya untuk bahu-membahu bersama santri pesantren dalam kegiatan penghijauan kawasan hutan lindung desa.
Pemandangan langka berupa pemuda bersarung dan pemuda gereja yang saling melempar senyum sambil menanam pohon pinus di atas bukit kini menjadi pemandangan harian yang menghangatkan hati siapa saja.
Pendekatan dialog berbasis aksi ekologi nyata ini terbukti jauh lebih efektif meredam gesekan sosial dibandingkan sekadar menggelar seminar toleransi yang sering kali hanya berhenti di atas kertas semata.
Keberhasilan merawat puluhan titik mata air baru di kawasan lereng Menoreh membuat pasokan air bersih bagi lima desa di sekitarnya kini berlimpah sepanjang tahun tanpa ada diskriminasi pemanfaatan.
Air yang mengalir dingin dari saluran pipa bambu tersebut kini melayani rumah-rumah warga tanpa pernah menanyakan apa agama atau latar belakang suku dari keluarga yang mengonsumsinya setiap hari.
Di dalam area pesantren itu sendiri, santri tidak hanya diajarkan menghafal kitab suci dan hukum agama, melainkan juga dibekali pengetahuan sains praktis mengenai pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi.
Setiap pagi sebelum kelas pembelajaran agama dimulai, para santri diwajibkan mengolah sisa makanan serta dedaunan kering di laboratorium daur ulang sederhana yang dibangun di belakang kompleks pondok.
Hasil olahan pupuk organik tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada para petani lokal untuk membantu mengembalikan kesuburan tanah pertanian warga yang sempat rusak akibat penggunaan pestisida kimia secara berlebihan.

