Adab Berdoa, Belajar dari Cara Nabi Yunus

Avatar of Redaksi

- Redaktur

Jumat, 28 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Harian Memo Kepri | Religi — Imam Abu Bakr al-Thurthusyi dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu mengatakan salah satu adab berdoa adalah mengesakan Allah. Kemudian ia mencontohkan doa Nabi Yunus ‘alaihissalam dalam Al-Qur’an. Ia menulis:

ومن آدابه أن تبدأ بتوحيده، كما فعل ذو النون: فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

ناداه بالتوحيد، ثم نزهه عن النقائص والظلم بالتسبيح, ثم باء علي نفسه بالظلم, اعترافا واستحقاقا، قال الله سبحانه: فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ


“Sebagian dari adab doa adalah kau memulainya dengan mengesakan Allah seperti yang dilakukan Dzu Nun (QS. Al-Anbiya: 87): ‘Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’

“Dzu Nun (Yunus) menyeru Allah dengan tauhid (pengesaan), kemudian menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan kezaliman dengan tasbih, lalu mengakui dirinya sendiri penuh kezaliman, dengan kesungguhan pengakuan dan perasaan pantas dihukum (istihqâq). Allah subhanahu wata’ala, berfirman (QS. Al-Anbiya’: 88): ‘Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan’.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu,Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 21)

Dalam Surat Al-Anbiya ayat 87, Nabi Yunus menggunakan kalimat, “an lâ ilâha illa anta” (bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau) yang merupakan bentuk tauhid (pengesaan) kepada Allah dari sesembahan lainnya. Dilanjutkan dengan kalimat, “subhânaka” (Maha Suci Engkau) sebagai bentuk penyucian Allah dari segala sesuatu. Lalu kalimat, “innî kuntu minadh dhâlimîn” (sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang zalim) sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa di saat berdoa seyogianya kita mentauhidkan Allah terlebih dahulu, lalu menyucikan-Nya dari segala sesuatu dan menzalimkan diri kita sendiri sebagai hamba yang penuh dosa, baru kemudian meminta tanpa henti.

Baca Juga :  BKMT Bersama GP Ansor Tanjungpinang Gelar Doa Bersama Untuk Kemerdekaan RI

Berita Terkait

MTQH XX Kelurahan Senggarang, Wujudkan Generasi Qur’ani
Pemprov Kepri Peringati Isra Miraj, Menteri Agama Sampaikan Makna Spiritual
Haul dan Istighotsah Warnai Hari Jadi ke-242 Kota Tanjungpinang
Anggota DPRD Lingga Daniel Hadiri Ritual Doa Keselamatan Warga Tionghoa
Romo Prambodo: Natal Tahun Ini Momentum Kepedulian dan Solidaritas Sosial
Wali Kota Tanjungpinang dan Forkopimda Tinjau Pengamanan Ibadah Malam Natal
Uji Kompetensi Mubaligh se-Tanjungpinang Resmi Berakhir, Fokus Tingkatkan Kualitas Dakwah
388 Mubaligh/Mubalighah Dibekali Kompetensi Dakwah Jelang Ramadhan Mendatang

Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 22:38 WIB

MTQH XX Kelurahan Senggarang, Wujudkan Generasi Qur’ani

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:18 WIB

Pemprov Kepri Peringati Isra Miraj, Menteri Agama Sampaikan Makna Spiritual

Selasa, 6 Januari 2026 - 21:20 WIB

Haul dan Istighotsah Warnai Hari Jadi ke-242 Kota Tanjungpinang

Minggu, 4 Januari 2026 - 13:53 WIB

Anggota DPRD Lingga Daniel Hadiri Ritual Doa Keselamatan Warga Tionghoa

Kamis, 25 Desember 2025 - 17:39 WIB

Romo Prambodo: Natal Tahun Ini Momentum Kepedulian dan Solidaritas Sosial

Berita Terbaru