Rival paling kuat bagi PKI saat itu ialah Angkatan Darat. PKI punya cita-cita supaya para buruh dan petani dipersenjatai dengan bantuan senjata dari RRC. Aidit menyebut kelompok ini sebagai angkatan kelima.

TNI AD tidak sepaham dengan gagasan itu dan paling bersemangat menolak usul PKI. Selisih paham dan ideologi antara mereka membuat hubungan dua kelompok itu tidak akrab.

Pada 1965 di bulan September, tanggal 30, terjadi peristiwa berdarah dengan korban dari kalangan TNI AD. Tujuh jenderal dibunuh yang diawali dengan peristiwa penculikan.

Baca Juga: Apa Itu Joget Pargoy Yang Ada Di Tiktok, Bagaimana Awal Mulanya ? Berikut Penjelasannya

Situasi saat itu mencekam, orang-orang saling tuduh. AD menuduh PKI dalang dibalik pembunuhan. Sementara PKI mengatakan tragedi itu imbas konflik internal di TNI AD.

Opini masyarakat menyebut jika dalang peristiwa G30SPKI ialah PKI yang menyebabkan posisi partai itu tersudut. Maka pemimpin PKI itu melarikan diri dari Jakarta, menuju ke Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Karir politik DN Aidit tamat setelah peristiwa G30SPKI. Memang masih menjadi konroversi mengenai keterlibatannya secara langsung.

Baca Juga: Ternyata Ini Makna Lagu Pop Minang Bibia Merah, Berikut Penjelasan Serta Lirik Lagunya

Setelah puluhan tahun, cerita itu sampai juga ke telinga Ilham Aidit, yang tak lain merupakan putra pemimpin PKI DN Aidit. Dia terus mencari tahu keberadaan makam ayahnya yang memang sulit ditemukan itu.

Pencarian Ilham baru berbuah ketika sebuah lembaga swadaya masyarakat di Boyolali menghubunginya dan menceritakan tentang lokasi makam ayahnya DN Aidit. LSM itu mengaku mendapatkan informasi itu dari sumber-sumber kredibel yang terlibat.***