Menurut Agus, wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Kecamatan Belik dan Pulosari.
Di Kecamatan Belik, desa yang paling terdampak adalah Desa Belik dan Gombong. Sementara di Kecamatan Pulosari, kekeringan paling parah terjadi di Desa Clekatakan, Penakir, Gambaran, Nyalembeng, Batursari, Pulosari, Pagenteran, Cikendung, dan Siremeng.
BPBD juga memprediksi kondisi kekeringan masih akan berlangsung hingga Oktober 2026, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.
“Kami secara resmi memulai operasi darurat hidrometeorologi kekeringan sejak 1 Juli 2026. Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober dengan puncak kekeringan pada Agustus dan September,” jelasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Kabupaten Pemalang terus mengerahkan armada truk tangki yang bekerja sama dengan PMI dan Perumda Air Minum (PDAM).
Distribusi dilakukan hingga ke wilayah-wilayah terpencil agar kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi.
“Setiap hari kami mengerahkan armada truk tangki dan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar distribusi tepat sasaran. Kami ingin memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi di tengah puncak musim kemarau,” kata Agus.

