HMK, OPINI – Budaya politik apatis semakin gencar menyerap pemikiran generasi muda khususnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik yang berada di wilayah kota bahkan sampai ke pelosok desa. Begitu kata seorang mahasiswi Perguruan Tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (Stisipol) Raja Haji Tanjung Pinang Liony Andini (20), Selasa, (27/22).

Menurut Mahasiswi jurusan Administrasi Publik ini, sebagian besar masyarakat memilih beralasan malas, bahkan tidak tertarik sedikitpun untuk mengikuti perkembangan dunia perpolitikan karena menganggap partisipasi yang diberikan tidak lagi memberi manfaat atau tidak berguna.

“Ini banyak sekali dijumpai oleh para kalangan muda, mereka sendiri memiliki pandangan buruk terhadap pemilihan umum,” ujar Liony.

Karena pandangan buruk tersebut, banyak dari beberapa kalangan muda memilih untuk menjadi “golongan putih” atau golput dalam pemilihan umum. Dan ini tentunya sudah tidak mengherankan lagi karena sudah banyak dijumpai dimana-mana, bahkan dari sebagiannya ada yang bersikap tahu tetapi tidak mau tahu.

“Tidak lagi pernah terjadi aksi protes atau unjuk rasa, tidak mampu mengenal sistem politik, dan hilangnya semangat nasionalisme,” lanjut Liony.

Tingkat individualisme yang sudah tertanam menyebabkan hak pilih bukan lagi prioritas utama dalam kehidupan kaum muda pada saat ajang pemilu dilaksanakan. Hal ini bisa dibuktikan dengan penggunaan masa libur dengan lebih memilih untuk bepergian, ditempat tidur, bekerja atau sekedar berkumpul bersama teman sebaya, dibandingkan menggunakan hak pilih pada saat pemilu.

Pendapat lainnya menurut Mahasiswi asal Tanjung Pinang ini, Minimnya pengetahuan akan politik yang ada di indonesia ini menyebabkan terjadinya golput dikalangan kaum muda, sehingga melahirkan generasi apatis politik.

“Apakah kalian mau dibilang seperti itu oleh orang lain? Karena saat ini sudah banyak kaum muda lainnya mengetahui akan politik di indonesia, dan tertarik dengan dunia politik,” ungkap Liony.

Para kalangan muda harus lebih sadar, bahwa memilih dalam pemilu gunanya untuk menyeleksi para pemimpin pemerintahan baik di eskekutif maupun legislatif yang baik untuk masyarakat itu sendiri, serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat, guna mewujudkan tujuan nasional sesuai UUD 1945.

“Jika semuanya berfikiran yang sama dan bersikap apatis, maka akan seperti apa wajah politik Indonesia di masa depan?,” ujarnya lagi.

Karena satu suara saja bisa menentukan nasib bangsa kedepannya. Untungnya bagi kalangan muda memilih saat pemilu ialah dengan memberikan hak suara, maka kita dapat menentukan siapa yang terbaik dan bisa diandalkan untuk bangsa ini.

Bayangkan jika kita tidak memilih, maka selama 5 tahun kedepan kita pasti akan menyesal jika ternyata sosok yang terpilih merupakan sosok yang tidak tepat. Apalagi sebagai pemimpin tentunya mempunyai kewenangan untuk menentukan berbagai kebijakan yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat.

Untuk memilih dalam pemilu itu tidaklah susah melainkan sangat mudah, dan syarat untuk masuk daftar pemilih adalah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih pada hari pemungutan suara, sudah kawin, atau sudah pernah kawin. Tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya. Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Seperti yang disampaikan salahsatu Artis terkenal sekaligus aktivis muda Maudy Ayunda, pentingnya kesadaran berpolitik bagi kaum muda meski ada stigma negatif soal politik karena citra buruk kasus korupsi, namun kaum muda adalah generasi yang mampu mengubah segala kondisi.

“Kalau ga dimulai dari sekarang ada terus waves of negativism yang berkembang,” kata Liony menirukan ucapan Maudy Ayunda (-red).

Jika kalian para kaum muda bertanya apa untungnya golput, tidak ada untungnya golput itu sendiri, ingin dilihat dari aspek apa saja, golput tetap hal yang tidak baik untuk dilakukan. Dari agama saja kita tidak diperbolehkan untuk melakukannya hanya kerugian yang nantinya berimbas pada diri sendiri dan masyarakat luas. Oleh karena itu, mempunyai sikap apatis itu sangat tidak ada untungnya, tentu tidak akan menyelesaikan masalah.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik, hendaknya untuk lebih memahami tentang kondisi politik di Indonesia. Karena sekarang ini untuk mengakses internet bisa dari mana saja dan sangatlah mudah.

Buang sifat masa bodoh, dan lebih baik memilih daripada diam. Janganlah menjadi generasi muda yang memiliki sifat apatis dalam pemilu, sangat disayangkan jika harus menyia-nyiakan hak pilih dalam pemilihan umum.

Dengan bersikap apatis terhadap dunia politik pula, kamu kita akan merasa rugi di kemudian hari.

“Jadi, tentukanlah pilihanmu untuk masa depan yang lebih baik dan tanamkan kepedulian terhadap gerakan politik di Indonesia,” pungkas Liony Andini.