Lis menambahkan, karnaval ini bukan sekadar hiburan, melainkan wadah kebersamaan.
“Bapak Kalapas menitipkan pesan bahwa semangat persatuan ini adalah energi positif yang harus terus dijaga, baik oleh pegawai maupun warga binaan,” ucapnya.
Salah satu pegawai peserta karnaval, Septiyawan, tampil mengenakan pakaian adat Yogyakarta. Ia mengaku bangga bisa turut serta.
“Dengan mengenakan pakaian adat, saya ingin menunjukkan betapa kayanya budaya bangsa kita. Karnaval ini membuat kami semakin merasakan arti kebersamaan dan persatuan,” katanya.
Hal serupa disampaikan AR (20), warga binaan yang ikut dalam karnaval. Dirinya baru pertama kali merasakan suasana seperti ini di dalam lapas.
“Rasanya seperti benar-benar ikut merayakan kemerdekaan bersama masyarakat di luar. Ada haru, ada semangat, dan saya merasa lebih kuat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Karnaval kebangsaan ini menjadi penutup rangkaian peringatan HUT ke-80 RI di Lapas Cipinang.
Lebih dari sekadar perayaan, kegiatan tersebut meneguhkan komitmen bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui persatuan, kebersamaan, dan langkah maju bersama di balik tembok lapas.

