Selain persoalan kebakaran, Dandim juga mengingatkan dampak serius karhutla terhadap ketersediaan air bersih.

Menurutnya, penggunaan air untuk pemadaman di tengah kondisi kekeringan justru memperburuk krisis air yang dialami masyarakat.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah agar segera mengambil langkah strategis, seperti mencari sumber air alternatif melalui pembangunan sumur bor, memperluas distribusi air bersih, serta menyusun sistem pengelolaan air yang lebih berkelanjutan.

Sementara itu, berdasarkan data dari BMKG, kondisi iklim pada tahun 2026 diperkirakan lebih kering dari biasanya.

Curah hujan yang rendah menyebabkan meningkatnya hari tanpa hujan, berkurangnya kelembapan tanah, dan menipisnya cadangan air permukaan.

Kondisi ini diperparah dengan laporan dari PDAM Cabang Kijang yang menyebutkan dari empat waduk sumber air baku, satu telah kering, satu dalam kondisi kritis, satu berstatus siaga, dan hanya satu yang masih dalam kondisi aman.

Dengan ditetapkannya status darurat ini, Pemkab Bintan akan mengintensifkan patroli hotspot, melakukan pemadaman terpadu, menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak, serta memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.