Oleh : Sindria Yunistya Ningsih
Mahasiswi STIE Pembangunan
HARIANMEMOKEPRI.COM — Era digital telah mengguncang berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kita bekerja, berkomunikasi, dan bahkan memimpin sebuah organisasi.
Teknologi yang dulu hanya digunakan untuk meningkatkan efisiensi kini telah menjadi pusat dari hampir setiap keputusan bisnis.
Banyak perusahaan berlomba-lomba untuk mengadopsi teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan (AI) , big data , dan otomatisasi.
Namun, dalam perjalanan menuju revolusi digital ini, banyak yang lupa pada elemen terpenting: manusia.
Kita sering mendengar tentang transformasi digital dalam konteks efisiensi dan produktivitas,
Namun pada saat yang sama, strategi pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) juga harus beradaptasi dengan perubahan ini.
Teknologi yang semakin maju dapat membawa dampak positif bagi perusahaan, tetapi hanya jika manusia tetap menjadi pusat dari semua inovasi tersebut.
Maka, tantangan besar di era digital ini adalah bagaimana menyatukan manusia dan mesin dengan cara yang harmonis dan saling mendukung.
Membangun “Digital Empathy”: Teknologi dengan Sentuhan Manusia
Dalam kebanyakan organisasi, penggunaan teknologi sering kali berfokus pada efisiensi, penghematan biaya, dan peningkatan produktivitas.
Namun, sedikit yang menyoroti pentingnya membangun empati digital yakni bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung dan memahami kebutuhan emosional karyawan.
Empati digital bukan hanya sekedar memahami data, tetapi juga merespons kebutuhan psikologis dan emosional yang dimiliki karyawan dalam lingkungan kerja yang semakin kompleks.

