Ketika bising klakson kendaraan bermotor memadati kawasan pinggiran Jakarta setiap sore, seorang lelaki paruh baya justru memilih merawat tumpukan buku tua di tepi bantaran sungai yang dahulu dipenuhi sampah plastik.
Pria bernama Rian Hermansyah tersebut memutus alur kariernya sebagai desainer grafis ibu kota demi mengabdikan seluruh energi kreatifnya untuk membangun ruang baca ramah lingkungan yang gratis bagi anak-anak sekitar.
Keputusan ekstrem ini berawal dari keprihatinannya melihat anak-anak bantaran sungai yang kehilangan akses terhadap bacaan berkualitas akibat himpitan ekonomi keluarga yang kian mencekik setelah pandemi berlarut.
Tanpa mengandalkan bantuan dana dari pihak manapun, Rian mulai mengumpulkan kayu bekas galian konstruksi dan bambu tua untuk mendirikan fondasi saung sederhana seluas empat kali enam meter.
Warga sekitar yang awalnya memandang sebelah mata tindakan tersebut perlahan-lahan mulai tersentuh hingga akhirnya sukarela menyumbangkan tenaga serta konsumsi harian selama proses pembangunan berlangsung.
Mengubah Timbunan Sampah Menjadi Suaka Literasi
Gagasan memanfaatkan limbah daur ulang tidak hanya menekan biaya pembangunan saung, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi warga lokal tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan tempat tinggal mereka.
Ribuan judul buku koleksi pribadi yang terkumpul sejak masa kuliah ia jajar dengan rapi di atas rak-rak kayu buatan tangan yang telah diamplas halus agar aman untuk anak-anak.
Setiap akhir pekan, aroma kopi racikan lokal menyatu hangat dengan gemericik air sungai saat belasan relawan muda datang membantu mengajarkan bahasa asing dan seni melukis secara cuma-cuma.

