Apakah Anda pernah membayangkan bagaimana sebuah sudut kumuh yang dahulu dihindari orang kini bertransformasi menjadi pusat interaksi sosial yang penuh tawa serta semangat belajar tanpa batas?
Kehadiran ruang terbuka ini secara bertahap merubah cara pandang generasi muda setempat yang kini lebih memilih menghabiskan waktu membaca daripada terjebak dalam kecanduan gawai pintar seharian.
Para ibu rumah tangga di sekitar bantaran sungai bahkan mulai membentuk kelompok pengolah sampah organik untuk dijadikan pupuk kompos yang digunakan mempercantik taman bunga di sekeliling saung baca.
Tantangan Cuaca dan Harapan yang Tak Pernah Surut
Perjalanan merawat suaka membaca ini tentu tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan ketika luapan air sungai kerap mengancam keselamatan bangunan kayu serta koleksi buku yang tersimpan di dalamnya.
Banjir bandang yang meluap pada akhir tahun lalu sempat merendam sebagian rakitan rak buku, namun semangat gotong royong warga berhasil menyelamatkan hampir seluruh dokumen penting tepat pada waktunya.
Peristiwa melegakan tersebut justru semakin mempererat tali silaturahmi antarwarga yang kini merasa memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlangsungan perpustakaan swadaya yang telah memberikan banyak manfaat ini.
Rian sendiri meyakini bahwa perubahan sosial yang besar selalu berakar dari langkah-langkah kecil yang konsisten serta dilakukan dengan ketulusan hati tanpa memikirkan imbalan materi semata.
Prinsip hidup sederhana namun berdampak luas inilah yang terus ia bagikan kepada setiap tamu maupun pengunjung yang singgah untuk sekadar berdiskusi atau berbagi pengalaman inspiratif.

