HARIANMEMOKEPRI.COM — Senggarang merupakan salah satu wilayah yang berada di Kota Tanjungpinang dengan beragam keunikan dimilikinya. 

Wilayah Senggarang sebuah kampung/Kelurahan dimana rata-rata penduduk di Senggarang di dominasi sebagai nelayan sisanya menjalankan profesi yang berbeda. 

Baca Juga: PMII Tanjungpinang Bintan Minta Kejaksaan Negeri Periksa Dugaan Gratifikasi Pos Pengawas Perikanan Tahun 2014

Tak ayal banyak para wisatawan mancanegara mengunjungi lokasi Senggarang sebagai tempat wisata Religi dimana terdapat sebuah Klenteng berusia sekitar 308 tahun.

Selain itu, di Senggarang juga memiliki Kampung Pecinan Rumah Kapitan, Rumah Gambir, kuliner UMKM khas Cina dan terdapat kedai kopi legendaris yang sudah dikelola sejak 3 generasi serta kuil pohon beringin.

Baca Juga: DPD Forum Bela Negara RI Kepulauan Riau Ajak Mahasiswa STTI Cintai Tanah Air

Menurut penuturan ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kelurahan Senggarang Erni menjelaskan nama Senggarang dikenal dengan sebutan Toa Po (Kota Tua/Kota Besar). Sedangkan Tanjungpinang dikenal Sio Po (Kota baru/Kota Kecil).

“Dulunya masyarakat Tionghoa datang ke Tanjungpinang sekitar abad ke 17 pada masa pemerintahan Sultan Badrul Alamsyah I masyarakat Tionghoa bekerja sebagai pemasak dan berkebun Gambir,” jelasnya, Senin (4/2023).

Baca Juga: Siapakah Figur Tepat Dampingi Prabowo Subianto Pada Pilpres 2024 Mendatang ? Salah Satunya Sosok Ini

Seiring berjalannya waktu, Erni melanjutkan etnis Tionghoa mengalami perkembangan pada masa pemerintahan Daeng Celak YDM (Yang Dipertuan Muda) Riau II.

Pada saat itu masyarakat Tionghoa diberikan lahan oleh Daeng Celak untuk berkebun Gambir karena mereka dianggap lebih berpengalaman.

Baca Juga: Pisah Sambut Dandim 0315 Tanjungpinang Berlangsung Suka Cita Serta Penuh Canda Tawa

Karena hal tersebut semakin banyak masyarakat Tionghoa yang berdatangan ke Tanjungpinang untuk bekerja dan mengolah Gambir sehingga masyarakat Tionghoa semakin banyak dan berkembang pesat di wilayah Senggarang.

Menurut ceritanya, di Senggarang dulunya pernah mengalami musibah kebakaran yang hebat sehingga menghanguskan sebagian besar pemukiman penduduk.

Baca Juga: Maryono Minta Maaf Kepada Djodi Sempat Merasa Kecewa : Kami Menyadari Kurangnya Komunikasi dan Koordinasi

“Setelah peristiwa itu masyarakat memilih untuk pindah dan tinggal di Tanjungpinang. Oleh karena itu peristiwa tersebut dipercaya menjadi salah satu alasan mengapa Senggarang menjadi kawasan yang kecil sedangkan Tanjungpinang saat ini lebih besar,” ungkap Erni.

Erni menambahkan mengapa kini banyak masyarakat Tionghoa bermukim di Senggarang karena dahulunya masyarakat Tionghoa bisa mengolah rempah-rempah khususnya Gambir dan berdagang melalui jalur laut.

Baca Juga: Letkol Inf Eka Ganta Chandra Jabat Dandim 0315 Tanjungpinang, Kolonel Inf Tommy Anderson Kasiops Kasrem 084

“Inilah alasan masyarakat Tionghoa banyak tinggal kebanyakan di atas laut serta saat ini masih ada peninggalan sejarah yang ada di Senggarang,” terangnya. 

Sisi lain pengurus Klenteng Vihara Dharma Sasana Hasan menyampaikan sejarah berdirinya Klenteng Vihara Dharma Sasana hingga sekarang sudah 308 tahun

Baca Juga: Tampilkan Tarian Khas, Lanud RHF Tanjungpinang Ikut Berpartisipasi Pawai Budaya Kota Tanjungpinang

Pada Klenteng Vihara Dharma Sasana terdapat empat bangunan yang sama-sama menghadap ke arah laut. Bangunan pertama berada di atas sedangkan tiga bangunan lainnya berada di bawah diperuntukkan bagi dewa dewa China. 

Nama ketiga klenteng tersebut antara lain, klenteng Fu De Zheng Shen, dewa yang terdapat pada klenteng ini adalah Dewa Phe Kong yaitu dewa bagi keselamatan di daratan, dalam hal ini bagi wilayah Senggarang.

Baca Juga: Berikut Profil Singkat Letkol Inf Eka Ganta Chandra Hingga Saat Ini Jabat Dandim 0315 Tanjungpinang

“Klenteng yang kedua adalah Tian Hou Sheng Mu, terdapat tiga buah dewa, berada di tengah adalah dewa Ma Chou yaitu dewa untuk keselamatan dalam perjalanan di laut,”

“Kemudian di kiri dan kanan adalah dewa Phe Kong dengan sebutan Lou Wei Sheng (berada di kanan diperuntukkan bagi keselamatan orang yang sudah mati) dan To Po Kong (di kiri diperuntukkan bagi keselamatan mereka yang di darat),” pungkasnya. 

Baca Juga: Inilah 4 Rekomendasi Iphone Berdasarkan Kebutuhan Sehari-hari

Selain Klenteng Vihara Dharma Sasana, juga terdapat Kuil Pohon Beringin atau The Bayan Tree Shrine dibangun sejak 1811.

Kuil Pohon Beringin ini adalah rumah bagi Kapitan China pertama di Senggarang bernama Tan Ngueng Ga. Kuil ini memiliki dua lantai dengan luas sekitar 1 hektare dan menjadi bagian pemerintahan untuk Kapitan setelahnya. 

Baca Juga: Aksi Unjuk Rasa Di Kantor Gubernur Kepulauan Riau, Polres Bintan Turunkan Personil BKO Polresta Tanjungpinang

Namun pada abad ke 19 Kuil Pohon Beringin ini diabaikan, yang kemudian sebuah pohon beringin tumbuh di tempat tersebut sehingga menambah misteri dan keagungannya.

Sayangnya, beberapa bagian Kuil Pohon Beringin diruntuhkan untuk membuka jalan masyarakat setempat dan toko di sekelilingnya. Yang tersisa saat ini hanyalah sebuah dinding yang di tahan oleh akar pohon.