HARIANMEMOKEPRI.COM — Suasana meriah mewarnai pelataran Tugu Sirih Tepi Laut, Tanjungpinang, Sabtu (14/6/2025) malam, saat Persatuan Dayak Banjar Mahakam (PDBM) Batam menggelar pagelaran kesenian budaya khas Dayak.
Kegiatan khas Dayak ini menarik perhatian banyak warga yang antusias menyaksikan pertunjukan tradisional yang sarat makna budaya.
Panglima PDBM, Ardiansyah, menyebut kegiatan ini merupakan kolaborasi budaya Kalimantan yang pertama kali digelar di Tanjungpinang.
Kolaborasi tersebut mencakup berbagai etnis Kalimantan, seperti Kalimantan Selatan, Timur, Tengah, hingga Kalimantan Barat.
“Ini kegiatan kolaborasi budaya perdana. Kita ingin menunjukkan bahwa warga Kalimantan bisa bersatu, kompak, dan memperkenalkan budaya kita kepada masyarakat Tanjungpinang,” ungkap Ardiansyah.
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda tahunan sebagai sarana memperkenalkan kebudayaan Kalimantan yang menurutnya sangat unik dan kaya nilai.
“Intinya kita tetap bersatu, kompak, dan mudah-mudahan ke depan lebih maju lagi,” tambahnya.
Ardiansyah mencatat, warga Kalimantan perantauan yang terdaftar di Tanjungpinang berjumlah sekitar 60 orang, namun jumlah sebenarnya diyakini lebih banyak. Jika digabung dengan perantau di Bintan dan Batam, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 150 orang.
Ketua Forum Dayak PKBKB (Persatuan Keluarga Besar Kalimantan Barat), Rusmadi, turut memberikan apresiasi atas kegiatan ini.
Menurutnya, animo masyarakat yang tinggi menjadi dorongan untuk membuat acara yang lebih besar di masa mendatang.
“Event ini terus tumbuh dari tahun ke tahun. Harapan kami, pada 2026 seluruh komunitas Borneo di Kepri bisa ambil bagian. Ini bukan hanya soal budaya, tapi juga persatuan dan kontribusi untuk daerah,” ujar Rusmadi.
Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat Kalimantan dalam pembangunan daerah, khususnya Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri.
“Lewat budaya, kita ingin memberi energi positif untuk negeri ini. Forum Dayak PKBKB akan terus menjadi mitra pemerintah dalam memajukan daerah,” katanya.
Event ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga mempererat hubungan antarkomunitas lintas suku dan daerah di Kepulauan Riau.
Warisan budaya yang ditampilkan menjadi simbol kekuatan dalam membangun harmoni dan kemajuan bersama.

