Terlebih, penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) harus diarahkan untuk membantu meningkatkan pengetahuan.
“Digitalisasi itu dikendalikan oleh pola pikir kita, bukan kita yang dikendalikan oleh sistem atau digitalisasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar gerakan literasi di Tanjungpinang tidak melupakan identitas budaya Melayu.
Tradisi menulis, pantun, syair, gurindam hingga tunjuk ajar harus tetap dikenalkan kepada generasi muda.
Sementara itu, Bunda Literasi dan Bunda Baca Kota Tanjungpinang, Yuniarni Pustoko Weni, menyebut amanah diberikan kepadanya merupakan tanggung jawab untuk membangun kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
Weni menilai pembentukan budaya literasi harus dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga dan sekolah.
Orang tua diharapkan membiasakan anak membaca, menyediakan waktu berdiskusi, serta menciptakan suasana yang mendukung kegiatan belajar.
Ia juga mengusulkan adanya satu hari dalam sepekan dengan penerapan dua jam tanpa telepon genggam bagi anak-anak di sekolah.
Usulan tersebut diharapkan dapat dibahas bersama pemerintah daerah dan pihak terkait sehingga anak-anak memiliki waktu khusus untuk membaca dan belajar tanpa gangguan perangkat digital.
Menurut Weni, gerakan literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, komunitas, masyarakat hingga dunia usaha.
Dukungan juga disampaikan Bunda Literasi Provinsi Kepulauan Riau, Dewi Kumalasari Ansar. Ia menegaskan bahwa Bunda Literasi memiliki peran sebagai penggerak, motivator, sekaligus inspirator dalam membangun kebiasaan membaca.

