Sementara untuk kawasan kota lama, penataan akan difokuskan pada penanggulangan banjir, penggantian jalan aspal menjadi pattern concrete, serta peningkatan fasilitas umum.

Revitalisasi pelabuhan Penyengat meliputi pembangunan dermaga baru menuju Pulau Penyengat dan Kampung Datuk.

Pada sektor pariwisata, Pemko Tanjungpinang mengusulkan pengembangan kawasan wisata Bukit Manuk serta revitalisasi kawasan heritage Tionghoa di Senggarang.

Lis juga menyoroti pentingnya penanganan banjir, penataan permukiman kumuh, dan pembangunan jalan kota dalam konteks penguatan peran Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau dan pusat kegiatan wilayah sesuai dengan RTRW nasional.

Namun demikian, sejumlah hambatan juga disampaikan, seperti keterbatasan lahan akibat penguasaan swasta atas lahan yang tidak dimanfaatkan seluas 1.637,54 hektare, serta keterbatasan anggaran untuk pembangunan infrastruktur.

“Kami berharap adanya dukungan APBN dan kolaborasi dari pemerintah pusat maupun provinsi agar rencana pembangunan ini dapat terealisasi untuk mewujudkan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” tutup Lis.