Menurutnya, budaya Melayu tidak hanya tercermin melalui bahasa, pakaian, seni, dan tradisi, tetapi juga dalam budi pekerti, kesantunan, musyawarah, kepedulian, serta penghormatan terhadap sesama.

“Falsafah Melayu mengajarkan adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Falsafah ini mengingatkan kita bahwa kebudayaan harus berjalan seiring dengan nilai agama, akhlak, keadilan, dan kemaslahatan masyarakat,” tutur Lis.

Pada kesempatan tersebut, Lis juga berharap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Tanjungpinang dapat bekerja lebih profesional.

Ia menekankan pentingnya menyelesaikan persoalan sesuai dengan kewenangan masing-masing serta memperkuat koordinasi antarlembaga agar berbagai program pembangunan dapat berjalan optimal.

Upacara peringatan Hari Jadi Kota Otonom ke-25 tersebut turut dihadiri para tokoh pejuang pembentukan Kota Tanjungpinang, mantan Wali Kota Tanjungpinang Hj. Suryatati A. Manan, Ketua DPRD Kota Tanjungpinang, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta berbagai organisasi masyarakat.

Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjuangan pembentukan Kota Tanjungpinang sebagai daerah otonom sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan kota yang maju, berbudaya, dan sejahtera.