Dalam kesempatan tersebut, Lis membagikan pengalamannya saat melakukan subuh dan magrib keliling sejak Oktober 2024 hingga sebelum pelantikannya.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi sejumlah masjid yang masih minim sarana dan prasarana serta rendahnya partisipasi jamaah, terutama saat shalat subuh.

“Kami melihat banyak masjid yang kondisinya masih jauh dari harapan. Yang lebih mengkhawatirkan, saat shalat subuh, di beberapa masjid yang penduduknya padat, jamaahnya hanya empat orang. Bahkan, ada masjid yang imamnya juga merangkap ketua DKM dan pengurus lainnya,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kurangnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan ibadah di masjid.

“Kita kehilangan generasi usia 9 hingga 20 tahun dalam barisan jamaah. Ini menjadi PR besar bagi kita semua,” pungkasnya.

Lis mengingatkan pentingnya pendidikan agama dalam keluarga, yang menurutnya mengalami perubahan pola dalam beberapa tahun terakhir.

“Dulu, anak takut kepada orang tua jika tidak bisa mengaji. Sekarang, justru orang tua yang takut anaknya tidak bisa mengaji. Ini tentu menjadi bahan refleksi bagi kita semua,” katanya.