Sebuah klakson mobil menyeruak tajam di tengah kemacetan Jakarta sore ini, ketika seorang pengendara sepeda motor justru sibuk merekam kemarahan sang pengemudi demi konten TikTok daripada melapangkan jalan.
Peristiwa kecil di persimpangan jalan yang riuh itu menyingkap sebuah tabir tebal mengenai bagaimana standar kepedulian sosial kita telah bergeser secara perlahan dari tindakan nyata menuju panggung pertunjukan digital.
Kehadiran gawai canggih dalam genggaman tangan memang memudahkan pertukaran informasi, namun pada saat bersamaan kerap melumpuhkan kepekaan nurani kita terhadap lingkungan sekitar yang membutuhkan pertolongan langsung.
Ketika seseorang jatuh pingsan di trotoar jalan raya yang ramai, refleks pertama sebagian besar orang dewasa kini bukan lagi mengulurkan tangan, melainkan meraih gawai untuk merekam momen tersebut.
Daya Pikat Sorotan Digital
Dorongan kuat untuk mendapatkan pengakuan berupa tombol suka dari ribuan orang asing di dunia maya telah menggeser batas-batas etika dasar yang dahulu diajarkan oleh orang tua kita di rumah.
Ruang publik yang dahulu menjadi sarana bertegur sapa secara hangat kini berubah menjadi panggung dingin tempat setiap individu bersaing menunjukkan kepedulian yang sering kali hanya sedalam layar gawai mereka.
Seorang sosiolog perkotaan pernah mencermati bahwa fenomena ketidakpedulian ini berakar dari rasa terasing yang makin menebal akibat kita terlalu sering bertatap muka dengan piksel warna-warni dibanding mata manusia.
Kita sangat mudah mengutuk ketidakadilan yang terjadi ribuan kilometer jauhnya lewat unggahan status, namun sering kali menutup mata saat tetangga sebelah rumah sedang berjuang menahan lapar.

