Menurutnya, selama berada di Madinah, para jamaah tidak mengalami kendala berarti. Bahkan, rombongan mendapat lokasi penginapan sangat strategis di depan Masjid Nabawi.
“Tiba di Madinah selama 10 hari tidak mengalami kendala. Walaupun haji reguler, posisi penginapan kami berada tepat di depan Masjid Nabawi. Pelayanan dan akomodasi selama ibadah haji juga sangat baik,” katanya.
Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah di Madinah, para jamaah haji melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk melaksanakan ibadah di Masjidil Haram dan mengikuti seluruh rangkaian haji.
Namun, Hariyun mengakui kondisi cuaca cukup ekstrem menjadi tantangan tersendiri. Menjelang puncak haji, suhu udara meningkat hingga di atas 40 derajat Celsius sehingga sebagian jamaah haji mengalami kelelahan.
“Setelah satu hingga dua minggu di Makkah, beberapa jamaah mulai kelelahan sehingga aktivitas di Masjidil Haram dan kegiatan city tour dikurangi,” jelasnya.
Ia menambahkan, menjelang pelaksanaan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), para jamaah lebih banyak beristirahat di hotel dan mengikuti manasik sebagai persiapan menghadapi puncak ibadah haji.
Dalam pelaksanaan ibadah tersebut, dua jamaah haji asal Tanjungpinang mengalami gangguan kesehatan serius dan harus menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi.
“Sebelum menuju Arafah, Ibu Latifah mengalami sakit selama tiga hari hingga tidak sadarkan diri dan dirujuk ke rumah sakit besar di Makkah. Menjelang kepulangan ke Tanah Air, Ibu Siti Rachel juga mengalami kondisi serupa dan harus dirawat,” ungkap Hariyun.

