“Dari Abdul Aziz bin Abi Rawad, ia berkata: “Kaum muslimin berdoa saat bulan Ramadhan hadir:
“Allahumma adhalla syahru ramadhâna wa hadlara, fa sallimhu lî wa sallimnî fîhi wa tasallamhu minnî. Allahummarzuqnî shiyâmahu wa qiyâmahu shabran wahtisâban, warzuqnî fîhil jadda wal ijtihâda wal quwwata wan nasyâtha, wa a’idznî fîhi minassâmati wal fatrati wal kasali wan na’âsi, wawaffiqnî fîhi li lailatil qadri waj’alhâ khairan min alfi syahrin.”
Ya Allah, Bulan Suci Ramdhan sudah membayangi dan datang. Maka, sampaikanlah Bulan Suci Ramdhan kepadaku, dan sampaikanlah aku dengan selamat ke dalamnya, dan terimalah amal-amalku di Bulan Suci Ramdhan.
Ya Allah, karuniailah aku kesabaran dan niat tulus mengharap pahala dan ridha-Mu atas puasa Ramadhanku dan qiyamul lailku. Ya Allah, karuniailah aku dalam Bulan Suci Ramdhan kesungguhan hati, ketekunan, kekuatan, dan vitalitas.
Ya Allah, lindulingah aku dalam Bulan Suci Ramdhan dari kebosanan, lemah lesu, kemalasan, dan lemas banyaknya kantuk. Ya Allah, sukseskanlah aku dalam mendapatkan lailatul qadar di Bulan Suci Ramdhan ini, dan jadikanlah pahala atau kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.” (Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitâb al-Du’â’, 2007, hlm. 312).
Ketiga, doa yang diriwayatkan Imam Abu ‘Utsman an-Nahdi (w. +91-100 H), seorang tabi’in dan ahli hadits dari Basrah. Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidina Umar bin al-Khattab, Sayyidina Ali bin Abu Thalib, Sayyidina Abdullah bin Mas’ud dan banyak sahabat lainnya Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’i al-Rijâl, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1992, juz 17, hlm. 425-426). Berikut riwayatnya (sanadnya hasan):

