Sebetulnya Pak Kades sudah lama kenal dengan Mariah. Ketika masih ada suami, hanya biasa-biasa saja. Meski mengakui kecantikannya, karena status bini orang kan sama saja ikan hias yang hanya bisa dilihat-lihat.
Padahal Kades Sofiadi juga tahu, bila kepepet harus menggorengnya itu ikan hias, pasti enak dan gurih juga.
Tiba-tiba jalan lapang terhidang di depan mata, ketika ada kabar suami Mariah meninggal karena kecelakaan. Sebagaimana lazimnya, Pak Kades mengucapkan bela sungkawa.
Tapi lain waktu, ketika tilpun-tilpunan dengan Mariah, nuansanya sudah lain. Bukan lagi kedukaan dan keprihatinan, tapi sudah keceriaan. Pak Kades sudah mulai suka guyonan yang nakal dan menjurus, tapi ternyata Mariah bisa menerimanya.
Sejak itu Pak Kades semakin aktif menyambangi si janda. Dengan alasan kontrol warga sedang ronda, tengah malam Kades Sofiadi blusukan ke kampung-kampung.
Tapi begitu sampai depan rumah Marah, langsung menghilang. Di dalam ternyata dia sibuk berkencan ria dengan janda Mariah. “Aku sudah lama nggak begini lho Mas,” kata Mariah saat kencan pertamanya dengan Pak Kades.
Sekali dua kali mondar-mandir di sekitar rumah Mariah, warga tak curiga. Tapi setelah keseringan, warga pun mulai menganalisa; pasti ada apa-apanya nih.
Maka belum lama ini diam-diam dilakukan penggerebekan. Ternyata benar, di dalam kamar ditemukan Pak Kades sedang bugil bersama janda Mariah. Pak Kades pun minta maaf dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Kasus ini memang tak berlanjut sampai ke polisi. Tapi apakah warga cukup Pak Kades minta maaf? Tentu saja tidak. Mengingat posita dan petitumnya tak terbantahkan, penduduk langsung mengadu ke Camat minta Pak Kades dipecat.
Tapi tentu saja Pak Camat tak bisa memutuskan, sebab memberhentikan Kades adalah domain bupati. Tapi karena dalil-dalil warga cukup jelas, niscaya tak lama lagi Kades Sofiadi tamat riwayatnya.
Karier tamat gara-gara memburu nikmat. (Gunarso TS)
Sumber | Poskotanews.com

