Nasional

Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Ikuti Aksi Aremania, Dukung Arema FC Terus Eksis

37
×

Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Ikuti Aksi Aremania, Dukung Arema FC Terus Eksis

Sebarkan artikel ini
Pendukung Arema FC mengaktualisasikan dukungannya dan meminta klub kebanggaannya dipertahankan

HARIANMEMOKEPRI.COM — Aksi Aremania yang dilakukan di Kantor Arema FC pada Selasa (31/2023) juga diikuti oleh keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Bahkan secara khusus, keluarga korban bertemu dengan manajemen dan direksi Arema FC.

Rini Hanifah ibu dari korban meninggal bernama Agus Rianshah asal Purwosari Pasuruan serta Juariyah ibu dari korban bernama Sfwa Dinar asal Muharto, Kota Malang mengungkapkan dukungannya agar Arema FC terus eksis.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Anak saya kehilangan nyawa gara-gara Arema, masa Arema mau bubar. Rumah saya ini jauh pak, saya Pasuruan, anak saya kalau tidak punya uang melihat Arema, saking sayangnya saking cintanya pada Arema jual baju jual sepatu demi Arema, masa Arema mau bubar kayak apa ini kebanggaan anak saya kalau tidak ada lagi,” ungkap Rini Hanifah, sambil terisak.

BACA JUGA  Pengamanan Area Tangkapan Air Waduk Duriangkang akan Ditingkatkan

Baca Juga: Warga Melayu di Kepri, Taukah 9 Sapaan Khas Melayu Ini, Salah Satunya Pak Mok untuk Orang Gemuk, Ini Ulasannya

“Kemana sepak bola hiburannya anak saya ini pak, kebanggaan anak saya ini pak. Kalau bisa, lanjut jangan sampai bubar, Apapun yang terjadi jangan sampai bubar, jangan mau dipecah belah. Saya itu mangkel, demi Allah saya sedih kalau Arema dijelek-jelekkan,” sambungnya.

BACA JUGA  Keterbatasan Makanan, Keluarga Ini Hanya Jadikan Tarantula dan Kalajengking Sebagai Lauk

Senada dengan Rini, Juariah juga mencurahkan isi hatinya dihadapan Komisaris PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi (PT AABBI), Tatang Dwi Arifianto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasional

Kaki angka 7 dan 9 terbuat dari bentuk yang sama, membentuk dua tangan menyatu sebagai simbol persatuan masyarakat Indonesia, walaupun memiliki pendapat yang berbeda-beda. Sementara, dua gelombang dengan arah yang sama di atas dan di bawah merepresentasikan tujuan Indonesia untuk desentralisasi dan memeratakan pembangunan demi mencapai kesetaraan.