Sebaliknya, sawit memerlukan biaya cukup besar, mulai dari Rp7 juta hingga Rp13 juta per tahun untuk kebutuhan pupuk, pestisida, serta tenaga kerja.
Dari sisi pendapatan, Bustami mengakui bahwa sagu memang tidak menghasilkan secara instan.
Namun, tanaman ini dinilai memiliki nilai ekonomi yang stabil dan berkelanjutan. Ia menyebut satu batang sagu dapat menghasilkan sekitar 150 hingga 300 kilogram pati dengan nilai Rp300 ribu hingga Rp700 ribu.
“Dalam jangka panjang, satu hektare lahan sagu bisa menghasilkan Rp50 juta hingga Rp100 juta secara bertahap,” jelas Bustami
Sementara itu, sawit rata-rata menghasilkan sekitar 15 hingga 20 ton per hektare per tahun dengan pendapatan kotor sekitar Rp25 juta hingga Rp50 juta.
Akan tetapi setelah dikurangi biaya operasional, pendapatan bersihnya hanya berkisar Rp15 juta hingga Rp30 juta.
“Kalau dihitung bersih, sawit tidak selalu lebih menguntungkan, apalagi dengan risiko harga yang naik turun,” katanya.
Sisi lain, Bustami juga menyoroti aspek risiko ekonomi. Dirinya menilai harga sagu relatif stabil karena tidak terlalu bergantung pada pasar global serta jarang mengalami gagal panen. Berbeda dengan sawit yang sangat dipengaruhi fluktuasi harga internasional.

