Dari proses tersebut kemudian muncul gagasan membentuk Gerakan Solidaritas Aksi Masyarakat Lingga sebagai wadah bersama untuk membahas berbagai persoalan daerah.

Tengku Nazwar yang merupakan tokoh putra daerah, zuriat Kesultanan Lingga sekaligus mantan Anggota DPRD Kabupaten Lingga, mengatakan terdapat sejumlah isu strategis yang akan menjadi pembahasan dalam Mubes.

Di antaranya mengenai kepemimpinan daerah, pengelolaan APBD, kualitas pelayanan publik, kebijakan pembangunan serta evaluasi terhadap perjalanan pembangunan Kabupaten Lingga selama 23 tahun.

Selain itu, sejumlah persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat juga akan menjadi perhatian.

Mulai dari lapangan kerja, investasi, konektivitas antarpulau, peningkatan PAD hingga persoalan kemiskinan.

“Mubes ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi menjadi wadah untuk mencari solusi dan merumuskan agenda aksi kolektif yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Lingga saat ini maupun untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan,” kata Tengku Nazwar.

Ia juga menilai perjalanan sejarah Lingga, khususnya kejayaan ekonomi pada masa lalu, dapat menjadi bahan pembelajaran dalam merancang masa depan daerah.

Menurutnya, sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dapat menjadi referensi dalam menggali potensi daerah dan merumuskan strategi pembangunan yang sesuai dengan karakter Kabupaten Lingga.

Tengku Nazwar berharap Mubes GSAM nantinya dapat melahirkan rekomendasi serta gagasan konstruktif yang dapat disampaikan kepada para pemangku kepentingan sebagai bahan masukan dalam pembangunan daerah.