HARIANMEMOKEPRI.COM – Harapan masyarakat Dusun II Serteh, Desa Kelumu, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, untuk menikmati akses jalan yang layak hingga kini belum juga terwujud.
Hampir 20 tahun lamanya warga menantikan pembangunan infrastruktur, namun kondisi jalan dan jembatan menjadi urat nadi aktivitas masyarakat masih jauh dari kata memadai.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap akses yang mereka gunakan setiap hari, warga kembali bergotong royong memperbaiki jembatan kayu yang telah lapuk dan rusak di sejumlah bagian, Jumat (17/7/2026).
Perbaikan dilakukan secara swadaya dengan peralatan sederhana agar jembatan tetap bisa dilintasi masyarakat.
Bagi warga Dusun II Serteh, jalan dan jembatan bukan hanya sekadar penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi akses utama menuju sekolah, fasilitas kesehatan, serta menopang aktivitas perekonomian masyarakat.
Namun, kondisi jalan sepanjang kurang lebih empat kilometer dari Desa Kelumu menuju Dusun II Serteh hingga kini masih memprihatinkan.
Saat musim hujan, badan jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin sehingga membahayakan pengendara.
Sebaliknya pada musim kemarau, debu tebal menyelimuti jalan dan mengganggu aktivitas warga.
Kepala Dusun II Serteh, Jumardi, mengatakan persoalan tersebut telah berlangsung hampir dua dekade tanpa adanya penyelesaian yang berarti.
Jumardi berharap Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dapat memberikan perhatian yang sama kepada masyarakat Dusun II Serteh hingga kini masih menantikan pemerataan pembangunan infrastruktur.
“Hampir 20 tahun masyarakat hidup dengan kondisi jalan yang jauh dari kata layak, namun harapan agar akses yang aman dan memadai dapat terwujud tidak pernah padam,” ujar Jumardi.
Menurut Jumardi, kerusakan jalan tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga telah menimbulkan sejumlah kecelakaan.
“Sudah banyak warga yang jatuh dari sepeda motor karena kondisi jalan yang licin saat hujan. Bahkan sebelumnya pernah ada warga yang terjatuh ke jurang ketika berusaha mencari jalur yang lebih aman untuk dilalui. Ini bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan, tetapi sudah menyangkut keselamatan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, selama ini warga berupaya mempertahankan akses jalan melalui gotong royong dan perbaikan secara swadaya.
Namun, kemampuan masyarakat sangat terbatas untuk menangani kerusakan yang membutuhkan penanganan permanen.
Jumardi menegaskan, masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan akses jalan yang layak agar anak-anak dapat bersekolah dengan aman, masyarakat lebih mudah memperoleh pelayanan kesehatan, serta roda perekonomian desa dapat berjalan lebih baik.
“Kami hanya ingin jalan yang layak agar masyarakat bisa beraktivitas dengan aman, anak-anak dapat menempuh pendidikan dengan nyaman, dan warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan tidak lagi kesulitan melewati jalan yang rusak. Hampir 20 tahun kami menunggu, dan hingga hari ini harapan itu masih tetap kami jaga,” katanya.
Atas nama masyarakat Dusun II Serteh, Jumardi berharap Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau maupun pemerintah pusat dapat segera memberikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur di wilayah mereka.
Bagi warga Serteh, jalan layak bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan harapan menuju kehidupan yang lebih baik.
Di tengah keterbatasan masih dihadapi, semangat gotong royong terus dipertahankan sembari menanti hadirnya pembangunan yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

