Di tengah kepungan polusi suara kendaraan dan deretan tenggat waktu yang tiada habisnya, seorang perempuan muda mengambil keputusan berani untuk meninggalkan posisi mapannya di perkantoran megah Jakarta.
Keputusan radikal yang diambil empat tahun lalu itu mengantarkan Ranum Dewanti menuju sebuah desa terpencil di kaki Bukit Menoreh untuk merintis dapur komunitas berbasis pangan lokal berkelanjutan.
Ketika sebagian besar orang melarikan diri dari hiruk-pikuk perkotaan hanya untuk berlibur sejenak, Ranum justru memilih menetap sepenuhnya sambil membongkar ulang seluruh makna kesuksesan hidup yang selama ini dia yakini.
Kepindahan tersebut merupakan wujud rencana matang yang dirancang selama dua tahun melalui riset mendalam mengenai potensi pertanian alami serta kekayaan kuliner lokal di wilayah pulau Jawa.
Keberanian Melepas Kenyamanan Perkotaan
Pengalaman bekerja selama hampir sepuluh tahun di industri kreatif Jakarta memberikan pelajaran berharga, namun rutinitas tinggi tersebut perlahan menguras kesehatan mental serta kepuasan batin yang selama ini dia cari.
Kesadaran itu muncul ketika dia menyadari bahwa sebagian besar bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat perkotaan telah kehilangan kesegaran alaminya akibat proses distribusi panjang yang merusak lingkungan sekitar.
Tekanan pekerjaan harian yang berulang tanpa jeda membuat tubuhnya rentan terhadap stres kronis, sehingga dokter menyarankan agar dia mulai mengubah pola hidup dan mengonsumsi makanan yang lebih sehat.
Dengan tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, dia memberanikan diri membeli sepetak tanah terlantar di Kulon Progo untuk memulai eksperimen pertanian organik yang ramah lingkungan bersama warga setempat.

