Langkah awal tersebut tentu tidak berjalan mulus karena tanah yang dibeli memiliki tingkat keasaman tinggi serta kandungan hara yang sangat rendah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan oleh pemilik sebelumnya.

Merawat Tanah dan Membangun Kepercayaan Warga

Proses pemulihan tanah membutuhkan waktu hampir dua tahun, sebuah periode panjang yang diisi dengan kegiatan pembuatan kompos mandiri dari limbah dapur rumah tangga dan dedaunan kering di sekitar permukiman warga.

Pendekatan perlahan yang ditunjukkan Ranum secara konsisten akhirnya meluluhkan keraguan masyarakat lokal yang awalnya memandang sebelah mata niat wanita muda asal ibu kota tersebut.

Tangan dingin para perempuan lansia di desa tersebut menjadi kunci utama keberhasilan proyek, mengingat mereka memiliki pengetahuan tradisional tentang tanaman obat dan bumbu dapur kuno yang hampir punah tergerus zaman.

Kolaborasi antargenerasi ini menghasilkan sebuah ekosistem mikro yang tidak hanya menyehatkan tanah, tetapi juga membangkitkan kembali semangat gotong royong yang sempat pudar di antara warga desa tersebut.

Melalui pendekatan yang inklusif, Ranum berhasil mengajak puluhan ibu rumah tangga untuk memanfaatkan pekarangan rumah mereka yang kosong menjadi sumber pangan organik segar untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.

Menghidupkan Kembali Resep Warisan Nusantara

Hasil panen dari kebun organik tersebut kemudian diolah menjadi berbagai hidangan khas Nusantara yang disajikan dalam meja makan panjang untuk para tamu yang berkunjung dari berbagai kota di Indonesia.