HARIANMEMOKEPRI.COM – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melakukan kunjungan kerja ke Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Senin (10/3/2025).

Kunjungan ini diawali dengan kedatangannya di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, kemudian dilanjutkan menuju Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV Kepri.

Usai mengunjungi Kantor BPK, Menteri Fadli Zon beserta rombongan melanjutkan perjalanan ke Pulau Penyengat.

Ia didampingi langsung oleh Gubernur Kepulauan Riau, Walikota Tanjungpinang, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.

Setibanya di Pulau Penyengat, Fadli Zon melakukan ziarah ke makam Raja Ali Haji, Pahlawan Nasional yang dikenal sebagai tokoh penggagas dasar-dasar bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia.

Selain itu, Menteri Kebudayaan juga menziarahi makam Raja Haji Fisabilillah, mengunjungi Balai Adat, bekas rumah Raja Daud, Balai Maklumat, dan melaksanakan Salat Zuhur berjemaah di Masjid Sultan Riau Penyengat.

Pada malam harinya, Fadli Zon dijadwalkan membuka Festival Ramadhan Fair di pelataran Tugu Sirih, Tepilaut, Tanjungpinang.

Setelah itu, ia akan melaksanakan Salat Tarawih berjamaah di Masjid Al-Uswah, Km IX Tanjungpinang Timur.

Keesokan harinya, Selasa (11/3/2025), agenda kunjungan dilanjutkan ke Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.

Dalam keterangannya, Fadli Zon menyebut Pulau Penyengat sebagai kawasan cagar budaya nasional yang memiliki banyak peninggalan bersejarah.

Salah satunya adalah makam para tokoh pejuang yang berjasa dalam sejarah Melayu dan Indonesia. Pulau Penyengat ini merupakan pusat penting dalam sejarah perjalanan bahasa Indonesia.

“Dari sini lahir sumbangsih besar dalam pengembangan bahasa Melayu, yang kemudian menjadi dasar bahasa Indonesia. Bahkan pada 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa persatuan,” ujar Fadli Zon.

Ia menegaskan, Pulau Penyengat layak disebut sebagai ‘ground zero’ bahasa Indonesia.

Menurutnya, keberadaan bahasa Indonesia telah menjadi pemersatu bangsa yang tidak boleh dianggap remeh.

“Tempat ini bisa dibilang pusat bahasa Indonesia, tempat awal mula yang sangat penting. Tanpa bahasa Indonesia, mungkin bangsa ini tidak akan pernah bersatu seperti sekarang,” pungkasnya.